Oleh: dr. Ribka Mei Arti Sagala, MKM
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu kini menjadi realitas yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Kalimantan. Pagi hari bisa terasa sangat panas, siang berubah mendung, lalu hujan turun deras di sore hari, disusul udara lembap dan dingin di malam hari.
Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Tubuh yang dipaksa beradaptasi secara cepat akan mengalami tekanan fisiologis, sehingga sistem imun menjadi kurang optimal dalam melawan virus dan bakteri penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kalimantan, dengan karakteristik kelembapan tinggi, curah hujan fluktuatif, dan paparan lingkungan tropis yang khas, merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan cuaca. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan, terutama meningkatnya keluhan batuk, pilek, tenggorokan gatal, dan badan terasa tidak enak.
Sepanjang tahun 2025, berbagai fasilitas kesehatan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, mencatat peningkatan jumlah kunjungan pasien yang mengalami keluhan seperti batuk, pilek, demam, nyeri tenggorokan hingga sesak napas. Kondisi ini mengarah pada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, tercatat lebih dari 55 ribu kasus ISPA pada awal 2025. Sementara di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, angka kejadian ISPA meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di Kota Banjarmasin, pemerintah daerah bahkan menetapkan status waspada ISPA akibat peningkatan kasus yang cukup tajam.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyampaikan bahwa masa pancaroba dan perubahan iklim ekstrem menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus penyakit menular, khususnya infeksi saluran pernapasan. Fluktuasi suhu dan kelembapan yang tiba-tiba melemahkan sistem pertahanan tubuh manusia, sehingga virus dan bakteri lebih mudah berkembang.
Hal ini sejalan dengan pernyataan World Health Organization (WHO) yang menyebutkan bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. WHO menegaskan bahwa perubahan suhu dan kualitas udara berkontribusi pada meningkatnya penyakit pernapasan, infeksi, hingga gangguan kesehatan kronis, terutama di wilayah tropis dan berkembang.
Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah juga memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kasus gangguan pernapasan. Di beberapa kabupaten/kota, tercatat lonjakan kasus ISPA yang cukup signifikan pada tahun 2025, khususnya saat terjadi hujan berkepanjangan atau perubahan suhu yang ekstrem. Kondisi ini diperburuk oleh kualitas udara yang menurun akibat kelembapan berlebih, debu, serta dampak kebakaran lahan di beberapa wilayah.
Secara fisiologis, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk mempertahankan suhu internal tetap stabil. Namun, perubahan yang terlalu cepat dan ekstrem membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Jika tidak diimbangi dengan istirahat cukup dan asupan nutrisi yang memadai, maka daya tahan tubuh akan menurun. Inilah yang membuat masyarakat lebih mudah terserang penyakit, bahkan untuk gangguan kesehatan yang sebelumnya dianggap ringan seperti flu biasa.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap batuk dan pilek sebagai penyakit sepele. Padahal, dalam kondisi cuaca yang tidak stabil seperti sekarang, infeksi ringan dapat berkembang menjadi lebih berat, bahkan menyebabkan komplikasi serius seperti bronkitis dan pneumonia, terutama pada anak-anak dan lansia.
Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dimulai dari kesadaran individu dan keluarga. Masyarakat Kalimantan diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan cuaca setiap harinya. Jika hujan turun atau suhu udara menurun, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan pakaian yang sesuai, serta segera mengganti pakaian yang basah agar suhu tubuh tetap stabil.
Selain itu, kebersihan rumah dan lingkungan perlu menjadi prioritas utama. Pastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah, karena selain menjadi sarang nyamuk, genangan air juga meningkatkan kelembapan yang mempercepat pertumbuhan kuman dan jamur. Ventilasi rumah harus cukup terbuka agar sirkulasi udara berjalan dengan baik dan cahaya matahari dapat masuk.
Dari sisi nutrisi, masyarakat Kalimantan sebenarnya memiliki potensi pangan lokal yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh, seperti ikan, sayur hijau, buah-buahan, serta sumber karbohidrat alami. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan cukup minum air putih setiap hari akan membantu sistem imun bekerja lebih optimal dalam melawan infeksi.
Penggunaan masker juga menjadi langkah sederhana namun efektif, terutama saat berada di tempat ramai, saat kondisi udara kurang baik, atau ketika mengalami batuk dan pilek. Hal ini bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain.
Lebih dari itu, kebersamaan dalam komunitas juga sangat penting. Kerja bakti membersihkan lingkungan, mengikuti kegiatan penyuluhan kesehatan, serta saling mengingatkan tentang pentingnya pola hidup sehat merupakan bentuk nyata kepedulian bersama. Upaya promotif dan preventif inilah yang akan menjadi benteng utama masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Perubahan cuaca mungkin tidak bisa kita kendalikan. Menjaga kesehatan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Dibutuhkan kesadaran untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan tetap berada dalam kendali kita. Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, masyarakat Kalimantan dapat tetap sehat, tangguh, dan siap menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks. Memperbanyak minum air putih, memenuhi asupan vitamin, dan menjaga pola hidup sehat, kita membantu tubuh tetap tangguh menghadapi ancaman penyakit musiman.
Cuaca boleh berubah-ubah, tetapi komitmen kita terhadap kesehatan harus tetap konsisten. Karena daya tahan tubuh yang kuat adalah benteng pertama melawan penyakit.****





