Ekobis

Emas Antam Rp3.168.000, 999 Rp3 Juta, Emas USA Rp2.950.000 Per Gram

190
×

Emas Antam Rp3.168.000, 999 Rp3 Juta, Emas USA Rp2.950.000 Per Gram

Sebarkan artikel ini
Emas Antam Rp3.168.000, 999 Rp3 Juta, Emas USA Rp2.950.000 Per Gram

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pasar keuangan Indonesia tengah mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan, Kamis (29/1). Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur hingga memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt), harga emas batangan bersertifikat Antam justru mencatatkan rekor kenaikan fantastis.

Berdasarkan pantauan dari situs Logam Mulia, harga emas Antam pada Kamis (29/1), melonjak tajam sebesar Rp165.000 per gram. Lonjakan luar biasa ini membawa harga emas Antam ukuran 1 gram berada di level Rp3.168.000, dari harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp3 jutaan.

Kenaikan ini juga diikuti oleh harga buyback atau harga pembelian kembali oleh PT Antam yang turut meningkat signifikan. Bagi investor, kenaikan tajam ini menjadikan emas sebagai instrumen penyelamat (safe haven) di tengah ketidakpastian pasar saham yang sedang memerah.

Berikut detail harga emas Antam: 0,5 gram: Rp1.634.000, 1 gram: Rp3.168.000, 5 gram: Rp15.615.000, 10 gram: Rp31.175.000, 100 gram: Rp311.012.000.
Sementara itu, berdasarkan pantauan harga di Pasar Besar Palangka Raya. Harga emas di Toko Emas Dahlia, untuk emas 999 dijual di harga Rp3 juta per gram dan emas Amerika (USA) dijual di harga Rp2.950.000 per gram.

 

IHSG Anjlok, Bursa Berlakukan Trading Halt

Kondisi berbanding terbalik terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG kembali mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan, Kamis. Melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, indeks sempat merosot hingga lebih dari 5%, bahkan menyentuh ambang batas 8% yang memaksa otoritas bursa memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan guna meredam kepanikan pasar.

Sentimen negatif utama dipicu oleh keputusan lembaga pemeringkat indeks global, MSCI, yang membekukan sementara pembaruan (rebalancing) indeks saham Indonesia. Keputusan ini memicu kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham di dalam negeri, yang berujung pada aksi jual masif oleh investor asing (net foreign sell) mencapai triliunan rupiah.

Hampir seluruh sektor saham berada di zona merah. Para analis menilai bahwa pasar sedang mengalami efek kejut (shock) jangka pendek. Minimnya sentimen positif dari domestik membuat investor cenderung melepas aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman seperti logam mulia.
Kepala BEI Kalteng, Cahyo Adiraja mengatakan, trading halt dilakukam sebagai upaya menjaga perdagangan di bursa efek.

“BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan  efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025” jelasnya.

Kombinasi antara jatuhnya IHSG dan meroketnya harga emas menunjukkan adanya fenomena risk-off, di mana pelaku pasar menghindari risiko di pasar ekuitas dan mencari perlindungan nilai pada emas.

“Penurunan tajam IHSG hingga kena trading halt ini murni karena respons pasar yang berlebihan terhadap sentimen MSCI. Di sisi lain, harga emas yang naik Rp 165.000 per gram mencerminkan tingginya permintaan sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ini,” ujar salah satu analis pasar modal.
Para pelaku pasar kini menanti langkah nyata dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menenangkan pasar serta memberikan klarifikasi terkait transparansi yang dipermasalahkan oleh MSCI agar kepercayaan investor kembali pulih. rmp