PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dr Suyuti Syamsul menegaskan, Hari Kanker Dunia yang diperingati setiap tahun tidak dimaknai secara seremonial, melainkan sebagai pengingat pentingnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya kanker dan deteksi dini.
“Sebetulnya kita tidak melakukan secara seremonial. Ini lebih kepada reminder, mengingatkan kita bahwa di sekitar kita banyak penderita kanker. Kanker itu pada dasarnya bisa disembuhkan, dan semakin cepat terdeteksi tentu hasil pengobatannya semakin baik,” kata dr Suyuti, di Palangka Raya, Rabu (4/2).
Ia menyampaikan, saat ini fasilitas pelayanan kanker di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya semakin lengkap. Mulai dari layanan bedah kanker, kemoterapi, hingga radioterapi kini telah tersedia dan terus diperkuat dengan dukungan peralatan dari pemerintah pusat.
“Di Doris Sylvanus sekarang peralatannya semakin lengkap untuk mengobati kanker. Mulai dari bedah kanker ada, kemoterapi ada, dan kalau memang diperlukan sampai ke radiasi. Bantuan pemerintah pusat untuk onkologi radiasi ini hampir lengkap, mungkin sudah hampir sepuluh alat untuk radioterapi,” jelasnya.
Menurut dr Suyuti, nilai investasi untuk pengembangan layanan kanker tersebut mencapai angka yang sangat besar.
“Untuk pengobatan kanker ini nilainya bisa sampai sekitar Rp100 miliar. Dan yang paling penting, saat ini semua layanan tersebut bisa dilayani menggunakan BPJS Kesehatan,” ujarnya.
Ia menegaskan penggunaan BPJS sangat membantu masyarakat, mengingat biaya pengobatan kanker yang tinggi.
“Kita menyadari kalau tidak menggunakan BPJS, masyarakat akan sangat kesulitan. Karena itu, hampir 100 persen pasien pengobatan kanker di Kalteng saat ini menggunakan BPJS,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalteng, jumlah penderita kanker yang tercatat mencapai sekitar 4.000 orang. Namun sebelumnya, banyak pasien harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan layanan radioterapi.
“Selama ini pasien banyak yang keluar daerah untuk radiasi karena kita baru mulai. Tapi sekarang mulai balik ke sini. Di mana-mana antrean radioterapi itu sangat tinggi, baik di Surabaya maupun Semarang, bisa sampai berbulan-bulan,” ungkap dr Suyuti.
Ia menjelaskan layanan radioterapi di RSUD dr Doris Sylvanus resmi dibuka sejak 5 Desember, dengan pasien pertama diterima pada 5 Januari.
“Sekarang kita sudah buka, dan alhamdulillah ini bisa mengurangi antrean radioterapi di luar daerah,” katanya.
Dalam peringatan Hari Kanker Dunia, layanan radioterapi tetap berjalan seperti biasa. “Setiap hari tetap jalan. Radioterapi itu penuh terus setiap hari,” ujarnya.
Menurutnya, radioterapi merupakan tahapan pengobatan lanjutan yang memerlukan waktu panjang. “Satu siklus radioterapi itu sekitar 30 kali penyinaran. Karena kita sudah punya fasilitas sendiri, saat ini tidak ada antrean sama sekali untuk radiasi di sini,” jelasnya.
Meski fasilitas semakin lengkap, dr Suyuti mengakui masih ada kendala utama dalam penanganan kanker di Kalteng.
“Kendalanya itu awareness atau kesadaran masyarakat. Rata-rata pasien yang datang sudah stadium lanjut. Padahal kalau datangnya masih stadium satu, penanganannya jauh lebih mudah, mungkin cukup operasi,” katanya.
Ia menyebutkan, sebagian besar pasien yang datang saat ini sudah berada pada stadium dua atau tiga. “Kalau sudah stadium dua atau tiga, proses pengobatannya akan lebih panjang, apalagi kalau sudah stadium empat,” tambahnya.
Karena itu, Dinas Kesehatan terus mendorong edukasi dan kampanye kepada masyarakat. Menurutnya, kesadaran yang perlu dibangun adalah bahwa kanker bisa diobati dan sebenarnya bisa dicegah. Salah satunya melalui edukasi dan pemeriksaan dini.
Ia mencontohkan, untuk kanker payudara, perempuan dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. “Ibu-ibu bisa memeriksa sendiri di depan cermin, diraba payudaranya. Kalau ada benjolan, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Sementara untuk kanker serviks, tanda awal yang perlu diwaspadai adalah perdarahan tidak normal. Misalnya bukan waktu haid tapi terjadi perdarahan, itu harus segera diperiksa.
Terkait tenaga medis, dr Suyuti menyampaikan bahwa saat ini terdapat tujuh dokter spesialis yang menangani kanker di RSUD dr Doris Sylvanus
“Ada dua dokter bedah onkologi, kemudian dokter yang fokus pada kanker darah. Ada juga dokter satu dokter lainnya untuk kanker anak, serta dokter yang khusus menangani radioterapi,” paparnya.
Ia menambahkan, pengembangan layanan kanker dilakukan secara bertahap sesuai kebijakan pemerintah pusat.
“Kebijakan pemerintah pusat itu satu provinsi dibantu satu rumah sakit dulu, karena dananya terbatas. Jadi kita fokuskan di pusat provinsi, yaitu Palangka Raya,” pungkas dr Suyuti. ldw





