DPRD KOTIM

Ketua DPRD Rimbun Soroti TMB Sampit Minim Perhatian

217
×

Ketua DPRD Rimbun Soroti TMB Sampit Minim Perhatian

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Rimbun Soroti TMB Sampit Minim Perhatian
TINJAU-Ketua DPRD Kotim Rimbun dan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim ketika meninjau sejumlah taman miniatur budaya di wilayah ini. FOTO HMS DEWAN

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-  Kondisi Taman Miniatur Budaya (TMB) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi sorotan Ketua DPRD Kotim Rimbun. Padahal, taman itu menyimpan cerita tentang budaya, adat istiadat di wilayah ini.

Rimbun menilai, minimnya perhatian terhadap kawasan yang menjadi simbol keberagaman dan kearifan lokal tersebut mencederai wajah keharmonisan daerah.

Menurut Rimbun, taman miniatur yang menampilkan rumah adat merupakan representasi nilai budaya dan identitas masyarakat. Namun, saat ini sejumlah bangunan terlihat rusak, bahkan ada yang terbengkalai tanpa perawatan memadai.

“Kalau kita melihat kearifan lokal yang ada di taman miniatur itu, sangat miris. Tidak ada perhatian sama sekali. Padahal itu menyangkut harga diri Dayak dan keharmonisan semua suku yang ada di Kabupaten Kotim,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Ia menyebutkan, kondisi beberapa bangunan seperti Betang, rumah Banjar, Bali, hingga Madura, sudah mengalami kerusakan, bahkan ada yang hancur. Rimbun menilai, rehabilitasi tidak bisa lagi ditunda, apalagi kawasan tersebut memiliki nilai historis dan simbolik, terutama pasca tragedi 2001 yang pernah terjadi.

“Ini menyangkut wajah keharmonisan Kabupaten Kotim pasca tragedi 2001 lalu. Kita sering berbicara soal Dayak, tetapi tidak memperhatikan aset dan kearifan lokalnya. Itu yang harus kita jaga,” ujarnya.

Untuk itu, DPRD berencana mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar segera memprogramkan rehabilitasi, baik rehab ringan, sedang, maupun berat terhadap bangunan yang ada.

Namun, mengingat keterbatasan anggaran daerah, ia mendorong agar program tersebut dapat disinergikan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang beroperasi di Kotim.

“Kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah tentu sangat terbatas. Lebih baik kita arahkan program CSR perusahaan tahun ini agar bisa membantu penyelesaian pembangunan dan rehabilitasi di taman miniatur,” tuturnya.

Ia juga mengusulkan agar kepala daerah memanggil seluruh perusahaan, terutama perusahaan kayu dan sawit, untuk berkolaborasi.

“Perusahaan kayu bisa menyumbang material kayu, perusahaan sawit juga bisa menyesuaikan teknisnya. Kami serahkan kepada pemerintah daerah, yang penting tahun ini harus bisa selesai,” tandasnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Rimbun bahkan membantu secara pribadi untuk mendukung operasional perawatan kawasan tersebut. Ia memberikan mesin rumput, racun rumput dan alat penyemprot racun.

“Ini demi keberlangsungannya, sambil kita dorong dinas teknis memetakan mana yang perlu rehab total, mana yang ringan,” ungkapnya.

Ia berharap, setelah seluruh bangunan direhabilitasi, pemerintah daerah dapat menggelar kembali kegiatan adat seperti mamapas lewu sebagai simbol kebersamaan dan semangat merawat keberagaman di Bumi Habaring Hurung.

Menurutnya, ide untuk memperbaiki taman itu dengan CSR disambut baik dan didukung oleh Ketua Perajah Motanoi agar pembangunan itu bisa terealisasi. may/red