PANGKALA BUN/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, hingga saat ini tak bisa dikendalikan lagi, hingga hari Sabtu (24/10/2026) malam Kobar api mendekati Camp Tanjung Harapan, dimana lokasi tersebut sebagai Posko Induk penanganan kebakaran di TNTP.
Kawasan Tanjung Harapan sendiri merupakan salah satu pos, gerbang wisata, serta pusat rehabilitasi orangutan dan stasiun pemberian makan (feeding station) di dalam Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Pantauan Tabengan di kawasan Hutan Tanjung Harapan, kawasan Hutan tersebut semua pepohonan telah mengering akibat kemarau panjang, batang pohon dan daun daun yang ada tidak ada yang menunjukkan tanda tanda kehidupan, mengering dan menguning.
Sepanjang jalan menyusuri hutan Tanjung Harapan, meski kekeringan nampak dari atas pohon sarang yang telah dibuat oleh individu orangutan, dimana orangutan memiliki sifat artistik yakni membangun sarang di atas pohon setiap hari untuk tempat tidur malam dan istirahat siang, serta mempelajarinya melalui pengamatan terhadap induknya.
Meski kondisi hutan yang telah mengering dan menguning, sepanjang jalan masuk dalam hutan Tanjung Harapan, kita pun sekali kali akan menemukan habitat lainnya seperti beknatan, burung khas Kalimantan dengan paruh besar adalah Burung Enggang atau yang dikenal juga dengan nama Rangkong.
Hutan Taman Nasional Tanjung Puting terbakar sejak tanggal 27 Agustus dan hingga saat ini api terus menjalar akibat angin kencang, dan minimnya sumber air, untuk mendapatkan air guna pemadaman, Tim Gabungan pun mendirikan forum tank dengan kapasitas 20 ribu liter.
Pemerintah daerah Kabupaten Kotawaringin Barat dalam penanganan Kebakaran Hutan TNTP pun hadir, dengan menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, untuk membantu dalam misi pemadaman.
Danton TRC BPBD Kobar, Dawi Al-Habsyie, ketika dikonfirmasi menyampaikan bahwa dirinya bersama Tim dari BPBD Kobar, telah bertugas selama 6 hari untuk membantu dalam penanganan Kebakaran Hutan TNTP.
“Saat ini kami masih melakukan pemantauan untuk di wilayah yang ada di belakang Pos Tanjung Harapan, kami kesulitan karena kurang panjang selang sehingga tidak mampu menjangkau titik api, kondisi api berada di dalam mencapai 2 km, untuk air semuanya ditampung dalam fortabel tank, kemudian disalurkan dengan selang, antara fortabel tank satu ke yang lainnya mencapai 500 meter, air kita ambil dari sungai sekonyer,” ujar Dawi Al – Habsyie, Minggu (25/10/2026).
Dan berdasarkan informasi dilapangan, saat ini titik api yang masih dalam penanganan ada di kawasan Sungai Buluh Kecil, Beguruh dan Tanjung Harapan. (yulia /jsi-red)











