

*118 Hektare Lahan Terendam Banjir
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kondisi banjir yang melanda Kota Palangka Raya berdampak cukup besar bagi para petani di Kelurahan Kalampangan. Setidaknya ada 118 hektare lahan pertanian mereka terendam air.
Akibatnya, para petani kembali harus mengalami gagal panen dan kerugian cukup besar setelah 2 kali sebelumnya di tahun yang sama, mereka mengalami musibah serupa.
“Tentunya kami turut prihatin atas musibah yang menimpa para petani. Gagal panen ini sudah ketiga kalinya dialami para petani di Kelurahan Kalampangan tahun ini. Semoga ada solusi dari permasalahan ini,” ujar Lurah Kalampangan Yunita Martina, Senin (28/11).
Ia menuturkan, dalam menangani musibah banjir saat ini pihaknya terfokus pada tanggap darurat. Seperti mendirikan posko darurat, dapur umum, layanan kesehatan, evakuasi dan layanan lainnya.
“Alhamdulillah sampai dengan saat ini kami belum mendapat laporan ada warga yang sakit selama banjir terjadi. Itu karena kami terus melakukan pencegahan dengan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada warga terdampak banjir,” ungkapnya.
Yunita mengimbau masyarakat agar selalu menjaga kesehatan dan mengurangi beraktivitas saat cuaca ekstrem. Termasuk selalu memerhatikan faktor keselamatan di tengah kondisi cuaca yang terjadi seperti sekarang ini.
“Apabila kondisi kesehatan dirasa kurang baik, segera lakukan pemeriksaan ke posko yang telah kami siapkan. Semua layanan yang ada di posko gratis atau tidak dipungut biaya, jadi warga tidak perlu khawatir,” katanya.
Debit Air Turun
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani mengatakan, ketinggian debit air banjir yang menggenangi sejumlah wilayah saat ini telah mengalami penurunan, rata-rata 3-5 cm.
“Hanya saja, masih ada beberapa wilayah yang ketinggian airnya masih bertahan atau belum menandakan penurunan. Di antaranya Jalan Pelatuk VI dan VII, Kelurahan Marang, Kameloh Baru, Bereng Bengkel, dan juga Danau Rangas,” kata Emi, Senin.
Karena beberapa wilayah saat ini telah mengalami penurunan debit air, rata-rata pengungsi yang ada di kelurahan-kelurahan memilih kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.
“Jadi hanya tinggal beberapa posko yang masih ada pengungsinya. Seperti pada Posko KNPI, kemudian Kameloh Baru dan Kelurahan Marang. Untuk pengungsi di posko-posko lainnya sudah memilih untuk kembali ke rumah masing-masing,” beber Emi.
Meski debit air telah mengalami penurunan, Emi tetap mengimbau kepada warga agar selalu berhati-hati dan waspada. Pasalnya, jalan menuju ke permukiman para pengungsi yang memilih kembali ini masih terendam oleh air.
Selain itu, cuaca hujan juga masih diperkirakan akan turun dengan intensitas cukup tinggi. BMKG memperkirakan puncak musim penghujan akan terjadi di Desember 2022 hingga Januari 2023.
“Kepada warga kami ingatkan untuk selalu waspada. Apabila cuaca ekstrem muncul sewaktu-waktu, lekas mencari tempat yang aman. Selain itu, kurangi atau hindari beraktivitas di saat kondisi cuaca ekstrem, pastikan keselamatan diri masing-masing,” tutupnya. rgb











