Spirit Kalteng

Buaya Teror Kobar, BKSDA Pasang Perangkap 

20
×

Buaya Teror Kobar, BKSDA Pasang Perangkap 

Sebarkan artikel ini
Buaya Teror Kobar, BKSDA Pasang Perangkap 
PERANGKAP- Petugas BKSDA Kalteng SKW 2 Pangkalan Bun memasang perangkap untuk menangkap buaya yang kembali muncul di lokasi penyerangan pertama. TABENGAN/YULIANTINI

PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID – Buaya kembali meneror masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar), khususnya yang bermukim di bantaran Sungai Arut. Setelah ditangkap dan dibedah usai menerkam seorang bocah hingga tewas pada Sabtu (25/11), predator ganas itu kembali muncul tak jauh dari lokasi kejadian, Senin (27/11).

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah SKW 2 Pangkalan Bun kini telah memasang alat perangkap untuk menangkap buaya yang masih berkeliaran di sekitar lokasi penyerangan pertama.

Diketahui, pada saat mandi di bantaran sungai Arut RT 05 Kelurahan Mendawai Seberang, tubuh bocah kelas IV SDN Mendawai Seberang, disambar dan diseret oleh buaya jenis Sepit (Senyulong) berukuran 5 meter, ke dalam Sungai Arut. Akhirnya, warga pun beramai-ramai melumpuhkan buaya tersebut dengan cara ditombak dan disetrum.

Kepala BKSDA Kalteng SKW 2 Pangkalan Bun Dendi Setiadi mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat, perihal munculnya kembali seekor buaya di lokasi penerkaman terhadap bocah kelas IV SDN Mendawai Seberang.

“Kami menerima laporan adanya satu ekor buaya di lokasi yang sama dengan penyerangan buaya pertama. Kami telah menurunkan personel untuk memasang kerangkeng dan kita upayakan untuk diberi umpan, yang kemudian akan kami ditangkap,” kata Dendi Setiadi kepada Tabengan, Senin (27 /11).

Munculnya buaya di Sungai Arut tersebut, menurut Dendi, karena telah terjadi irisan aktivitas orang dan buaya, hal itu berdampak sumber makan buaya berkurang di alam.

“Aktivitas di sungai itu sebagai pemicu kemunculan buaya di sungai, karena dianggap mangsa, mengingat buaya itu sifatnya sebagai satwa predator,” jelas Dendi.

Menurut Dendi, sebenarnya yang sering terpantau muncul buaya yang ukurannya 2 meteran ini di Mendawai jenis buaya muara, tetapi yang  kemarin korban konflik buaya sepit/Senyulong, jadi sebenarnya beda jenis dan bukan koloni.

“Kita jaga alam maka alam pun akan menjaga kita. Kami akui bahwa Mendawai merupakan desa peyangga dari  habitat buaya Sungai Arut dan Sungai Lamandau, karena itu kami sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar berhati-hati saat melakukan aktivitas di sungai,” ujar Dendi.

Dendi menambahkan, karena sungai merupakan habitat dari buaya sejak dahulu, masyarakat pun lebih bijak dalam berperilaku, misalnya dengan tidak membuang sampah ke sembarangan ke sungai, tidak membuang bekas bangkai bangkai ikan dengan aroma yang bau amis.

Hal tersebut sebagai pemicu kemunculan buaya, karena dianggap sampah sampah itu makanan buaya, termasuk juga pelihara ternak dan dengan adanya pemukiman, faktor utama buaya datang.

 

Dampak Rusaknya Lingkungan

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalteng Bayu Herinata mengatakan, penyerangan buaya terhadap manusia bukanlah hal yang baru terjadi.

“Hal ini harusnya menjadi sebuah peringatan bagi kita semua bahwa keberadaan satwa liar dipengaruhi oleh habitat di mana mereka hidup,” kata Bayu via WhatsApp, Senin (27/11).

Menurut Bayu, secara keseluruhan faktor penyebab penyerangan buaya sangat kompleks. Penyebabnya adalah kerusakan lingkungan atau habitat satwa.

“Penyebab kerusakan lingkungan tersebut bisa berasal dari aktivitas manusia seperti pembangunan dan industri, sehingga kawasan hutan yang menjadi habitat satwa tidak terjaga,” katanya.

Bayu menjelaskan, dengan adanya pembukaan lahan untuk perkebunan dan tambang, serta penggunaan bahan kimia, habitat alami buaya liar menjadi rusak dan terganggu.

Akibatnya, buaya pun terpaksa mencari makanan di luar habitat aslinya. Kondisi tersebut dapat membahayakan manusia yang tinggal di sekitar daerah habitat satwa tersebut.

Tak hanya kerusakan lingkungan, menurut Bayu, hilangnya pangan juga menjadi faktor penyebab buaya masuk ke wilayah permukiman manusia.

“Hilangnya pangan pada habitat alami buaya, memaksa buaya liar mencari makanan di tempat-tempat yang tidak seharusnya, yaitu mencari sumber makanan di wilayah pemukiman manusia,” terangnya.

Selain itu ia mendorong pemerintah membuat prospek dalam jangka pendek, yakni memitigasi konflik antara manusia dan buaya dengan mengevakuasi buaya ke pusat penangkaran atau sejenisnya.

Sebab, berpotensi akan semakin banyak buaya yang diburu dan dibunuh dengan alasan mencegah kejadian serupa yaitu menyerang manusia, hal tersebut akan sangat berdampak pada kelestarian spesies tersebut dan ancaman kepunahan.

“Di sisi lain, tetap harus dilakukan upaya perbaikan, yaitu untuk melakukan pemulihan habitat yang ada atau mengalokasikan habitat alami baru yang jauh dari pemukiman dan intervensi kegiatan manusia baik warga atau perusahaan,” pungkasnya. c-uli/jef