ROHANI KRISTEN

DOA PROFETIK – MENDEKLARASIKAN KEHENDAK TUHAN

69
×

DOA PROFETIK – MENDEKLARASIKAN KEHENDAK TUHAN

Sebarkan artikel ini
DOA PROFETIK – MENDEKLARASIKAN KEHENDAK TUHAN

Oleh: Pdp. Seventin Gustapatmi, M.Pd

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Banyak dari kita mengenal doa sebagai bentuk permohonan—kita datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan, berkat, atau jawaban atas kebutuhan kita. Tetapi hari ini, saya ingin mengajak kita melihat dimensi yang lebih dalam dari doa, yaitu doa profetik — doa yang bukan hanya berbicara kepada Allah, tetapi juga menyampaikan isi hati Allah kepada manusia.

Kata profetik berasal dari bahasa Inggris prophetic, dari akar kata prophet, yang berarti nabi. Artinya, sesuatu yang bersifat kenabian, yang menyatakan kehendak dan isi hati Tuhan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profetik berarti berkenaan dengan kenabian atau ramalan. Dalam konteks iman Kristen, kita mengenalnya sebagai nubuatan — ketika Tuhan menyatakan sesuatu tentang masa kini atau masa depan, sesuai dengan kehendak-Nya.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Doa Profetik adalah Doa yang Dipimpin oleh Roh Kudus.

Roma 8:26–27 berkata: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Doa profetik bukan doa yang keluar dari pikiran manusia, melainkan doa yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Dalam doa seperti ini, seseorang tidak hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga mendengar apa yang Tuhan ingin katakan.

Itulah sebabnya doa profetik sering kali mengandung pewahyuan, nubuatan, atau deklarasi iman — sebab Roh Kudus menyatakan kehendak Allah di dalam doa itu.

Tuhan bukan hanya ingin didengar, tetapi Ia juga ingin berbicara melalui doa-doa kita.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Doa Profetik: Menyatakan Kehendak Allah, Bukan Keinginan Pribadi

Yeremia 1:9–10 berkata: “TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Lihat, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa… untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, membangun dan menanam.”

Perhatikan, Tuhan berkata kepada Yeremia: “Aku menaruh perkataan-Ku ke dalam mulutmu.”

Itulah inti dari doa profetik: berbicara bukan dengan perkataan kita, melainkan dengan perkataan Tuhan. Dalam doa profetik, seseorang dapat menyatakan sesuatu — bukan karena dia ingin hal itu terjadi, tetapi karena Tuhan ingin hal itu terjadi.

Doa seperti ini memiliki kuasa untuk mengubah situasi, karena yang diucapkan adalah Firman Allah yang hidup dan bekerja.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Doa Profetik: Mengandung Kuasa Deklarasi

Dalam buku Kuasa Doa, hamba Tuhan H.L. Senduk menjelaskan bahwa doa bukan hanya permohonan, tetapi juga deklarasi iman — menyatakan apa yang Tuhan akan kerjakan.
Ketika kita berdoa dengan iman, kita tidak hanya menunggu, tetapi menyatakan dengan penuh keyakinan apa yang Tuhan janjikan.

Doa profetik itu seperti seseorang yang berdiri di atas Firman Tuhan dan berkata, “Tuhan sudah berfirman! Karena itu aku mendeklarasikan bahwa kehendak-Mu akan jadi di bumi seperti di surga!”

Inilah doa yang menggerakkan surga dan mengguncang bumi.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Doa Profetik: Berdampak Bagi Gereja dan Bangsa

Doa profetik tidak berfokus pada diri sendiri. Doa ini meluas — mendoakan gereja, masyarakat, dan bangsa. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 14:3: “Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, membangun, menasihati, dan menghibur.”

Ketika seseorang berdoa secara profetik, hasilnya bukan hanya jawaban pribadi, tetapi juga pembangunan rohani bagi orang lain. Doa profetik membawa pesan Tuhan — kadang berupa penghiburan, kadang berupa teguran, tapi selalu bertujuan untuk membangun tubuh Kristus.

Contohnya bisa kita lihat dalam kehidupan nabi Yehezkiel (Yehezkiel 4:1–3). Ayat 1: “Sekarang, hai anak manusia, ambilkanlah sebuah batu bata, letakkanlah di hadapanmu dan gambarlah di atasnya sebuah kota, yaitu Yerusalem.”

Ayat 2:  “Lalu dirikanlah tembok penyerbuan di sekelilingnya, bangunlah barisan kepungan, dan dirikanlah kemah-kemah dan pasanglah tahi badar di sekelilingnya.”

Ayat 3:  “Dan engkau, ambillah sebuah lempengan besi dan letakkanlah itu sebagai tembok besi antara engkau dan kota itu. Hadapkanlah mukamu kepadanya, sehingga ia terkepung dan engkau pun mengepungnya. Ini akan menjadi tanda bagi kaum Israel.”

Tuhan menyuruhnya melakukan tindakan profetik — membuat gambar kota Yerusalem dan menunjukkan bahwa kota itu akan terkepung. Ini bukan sekadar simbol, tapi tindakan doa yang menyatakan nubuatan Tuhan.

Doa profetik sering kali juga diikuti tindakan profetik, sebagai pernyataan iman bahwa Firman Tuhan akan digenapi.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Hidup yang Kudus: Landasan dari Doa Profetik

Saudara, doa profetik tidak bisa lahir dari kehidupan yang sembarangan.
Doa seperti ini lahir dari hati yang bersih, hidup yang kudus, dan telinga yang peka terhadap suara Roh Kudus. Roh Kudus tidak akan mempercayakan pewahyuan-Nya kepada hati yang tertutup oleh dosa atau kesombongan. Karena itu, sebelum kita ingin berdoa secara profetik, kita perlu berkata seperti nabi Yesaya: “Ini aku, Tuhan, utuslah aku!” (Yesaya 6:8)

Kekudusan membuka telinga rohani kita untuk mendengar isi hati Tuhan.

Saudara yang terkasih

Jadi kesimpulannya; Doa profetik bukanlah sekadar “doa biasa”, tetapi doa yang menyatakan kehendak Tuhan. Mari kita ingat lima hal penting ini: (1) Dipimpin oleh Roh Kudus (Roma 8:26–27). (2) Menyatakan kehendak Allah, bukan keinginan pribadi (Yeremia 1:9–10).  (3) Mengandung kuasa deklarasi iman. (4) Membangun, menasihati, dan menghibur (1 Kor 14:3). (5)  Didasarkan pada hidup yang kudus dan beriman. Tuhan Yesus Kristus memberkati. ist