Spirit Kalteng

FOCUS GROUP DISCUSSION-Pelestarian Kearifan Lokal dan Perkayan Koleksi Deposit

14
×

FOCUS GROUP DISCUSSION-Pelestarian Kearifan Lokal dan Perkayan Koleksi Deposit

Sebarkan artikel ini
FOCUS GROUP DISCUSSION-Pelestarian Kearifan Lokal dan Perkayan Koleksi Deposit
FGD-Dispursip Kalteng bersama Yayasan Betang Lestari Institute menggelar FGD bertajuk Ruang Dialog Pengayaan Literasi Daerah Penulisan Buku Bertema Budaya, Selasa (25/11), di aula Dispursip Kalteng.FOTO ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Komitmen memperkaya literasi lokal dan merawat budaya Dayak, kembali ditegaskan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng), melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalteng.

Bekerja sama dengan Yayasan Betang Lestari Institute, Dispursip menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Ruang Dialog Pengayaan Literasi Daerah Penulisan Buku Bertema Budaya, Selasa (25/11), di aula Dispursip Kalteng.

FGD tahun ini, memusatkan pembahasan pada sejumlah topik budaya Dayak, diantaranya “Mengenal Ritual Batenung dan Majalah Antang” serta “Mengenal Jenis-jenis Balanai Suku Dayak di Kalteng.”

Kepala Dispursip Kalteng, Adiah Chandra Sari, menilai, FGD ini sebagai langkah strategis dalam meneguhkan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan lokal.

“Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, dan informasi untuk mencerdaskan bangsa. Melalui FGD ini, kami mendorong pelestarian kearifan lokal, sekaligus memperkaya koleksi deposit yang memuat konten budaya Kalteng,” katanya.

Adiah menekankan, pentingnya ruang dialog seperti ini untuk menampung gagasan baru, memperluas wawasan peserta, dan merumuskan konsep penulisan buku yang relevan dengan konteks budaya Kalteng. Harapannya, rangkaian diskusi mampu menghasilkan karya tulis bermutu yang kelak menjadi bahan rujukan pelajar, peneliti, hingga pemerhati budaya.

“Pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi karya tulis, rekam, dan cetak harus terus dioptimalkan. Kami berharap FGD ini menghasilkan karya yang luar biasa bagi pemerintah,” imbuhnya.

FGD ini juga menjadi momentum, memperdalam pemahaman mengenai warisan budaya, peserta jug didorong untuk memahami lebih dalam nilai-nilai adat Dayak, terutama warisan tak benda seperti ritual Batenung, Manajah Antang, Balian, serta ragam pengetahuan tradisional lainnya.

Salah satu penulis, Nyawhang T Masyh, menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme para peserta yang hadir.

“Saya berbangga hati melihat antusiasme para pelajar, serta bapak ibu sekalian yang bisa hadir dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, dirinya merasa bahagia melihat berbagai masukan yang diberikan, demi penyempurnaan karya yang sedang disusun.

Nyawhang berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi dorongan bagi anak muda di Kalteng.

“Harapan saya, semoga ini bisa menjadi pemicu dan motivasi bagi generasi muda, khususnya Dayak dan masyarakat Kalteng pada umumnya,” tutupnya.nws