PENDIDIKAN

PEMBELAJARAN DIGITALISASI-Menata Cara Belajar Anak Di Era Teknologi

18
×

PEMBELAJARAN DIGITALISASI-Menata Cara Belajar Anak Di Era Teknologi

Sebarkan artikel ini
PEMBELAJARAN DIGITALISASI-Menata Cara Belajar Anak Di Era Teknologi
Kepala BPMP Kalteng, Dr. Tomy Haridjaya, S.Sos., MM

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran yang dilaksanakan secara bertahap, yang dibuka Kepala BPMP Kalteng, Dr. Tomy Haridjaya, S.Sos., MM, Kamis (11/12) di Palangka Raya.

Kepala BPMP Kalteng, Dr. Tomy Haridjaya, S.Sos., MM, mengatakan, bimtek oleh BPMP dilaksanakan sebanyak 2 tahap, Tahap I pada 11–13 Desember 2025, dan Tahap II pada 17-19 Desember 2025, yang difasilitasi oleh Direktorat SD, Ditjen PAUD Dikdasmen

Menurut Dr Tomy, digitalisasi pembelajaran sering kali dipersepsikan, pengadaan perangkat teknologi di sekolah. Komputer, laptop, dan jaringan internet, kerap dianggap sebagai indikator utama keberhasilan transformasi pendidikan. Namun, selain tersedianya perangkat tersebut, maka esensi digitalisasi pembelajaran adalah proses menata ulang cara berpikir, cara mengajar, dan cara belajar, agar pendidikan tetap relevan dengan tantangan zaman sekaligus berpihak pada kebutuhan belajar anak.

Ia sampaikan, kegiatan ini dirancang bukan sekadar bimbingan teknis, tetapi sebagai ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi pendidik dan pengelola sekolah dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan.

Dr Tomy menegaskan, digitalisasi pembelajaran merupakan bagian dari agenda besar peningkatan mutu pendidikan, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Digitalisasi bukan hanya dimaknai sebatas pengadaan perangkat. Harus ditempatkan sebagai strategi pedagogis untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, serta menumbuhkan cara berpikir kritis dan kreatif pada peserta didik. Karena itu, pemahaman kebijakan menjadi fondasi penting sebelum berbicara tentang praktik teknis.

“Peserta juga diajak melakukan tes awal sebagai sarana refleksi, untuk memetakan kesiapan dan kebutuhan nyata sekolah, dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis digital.

Salah satu topik penting yang dibahas adalah pengelolaan pembelajaran berbasis aset. Sekolah diajak mengubah cara pandang terhadap perangkat digital seperti komputer, laptop, jaringan internet, hingga papan interaktif digital (IFP),” kata Dr Tomy.

Perangkat tersebut bukan sekadar inventaris, melainkan aset strategis pembelajaran yang harus dioptimalkan penggunaannya. Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi dapat menjadi pengungkit efektivitas pembelajaran, bukan sekadar pelengkap administrasi sekolah.

“Pendekatan ini penting agar digitalisasi tidak berhenti pada kepemilikan alat, tetapi benar-benar berdampak pada proses belajar mengajar,” tambahnya.

Hari kedua, lanjutnya, fokus utama tertuju pada pemanfaatan IFP dalam pembelajaran. Melalui berbagai sesi, peserta diajak memahami bahwa IFP bukan pengganti papan tulis konvensional, melainkan ruang interaksi belajar.

IFP, guru dapat menghadirkan visualisasi konsep, simulasi, diskusi interaktif, hingga eksplorasi bersama siswa. Pembelajaran menjadi lebih hidup, partisipatif, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik.

Selain itu, peserta juga memperoleh inspirasi dalam penggunaan bahan ajar interaktif. Konten digital yang dirancang dengan baik mampu menjembatani konsep abstrak menjadi lebih konkret dan dekat dengan dunia anak.

Digitalisasi memungkinkan asesmen yang lebih formatif, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan belajar siswa. Asesmen tidak lagi dipahami sebagai alat menghakimi hasil belajar, melainkan sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. Dengan dukungan teknologi, guru dapat melakukan refleksi pembelajaran secara berkelanjutan dan menyesuaikan strategi mengajar secara lebih tepat.

Bimtek Digitalisasi Pembelajaran ini menunjukkan, transformasi pendidikan membutuhkan proses yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Digitalisasi yang berhasil bukan hanya diukur dari perangkat teknologi digital, tetapi dari perubahan cara mengajar dan cara belajar.

BPMP Kalteng hadir sebagai mitra sekolah dalam memastikan, setiap langkah digitalisasi membawa dampak nyata bagi anak-anak Indonesia, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan mereka, dan memastikan bahwa digitalisasi pembelajaran benar-benar berkontribusi pada mutu pendidikan.ist