KESEHATAN

Bagaikan Merawat Gigi Bungsu?

845
×

Bagaikan Merawat Gigi Bungsu?

Sebarkan artikel ini
Bagaikan Merawat Gigi Bungsu?

Oleh: drg. C. Yudianto, SpBMM

Staf Poli Bedah Mulut RSUD Mas Amsyar Kasongan

 TABENGAN.CO.ID-Tidak semua yang tumbuh itu langsung membawa kebaikan. Ada yang hadir terlambat, sempit ruangnya, dan jika dibiarkan justru menimbulkan nyeri berkepanjangan. Dalam dunia kedokteran gigi, kita mengenalnya sebagai gigi bungsu.

Gigi ini sering muncul di usia dewasa, ketika rahang sudah “penuh”. Alih-alih memperkuat fungsi kunyah, gigi bungsu kerap tumbuh miring, terpendam, atau menekan gigi lain. Jika diabaikan, ia memicu infeksi, bengkak, nyeri kepala, hingga gangguan sistemik. Namun jika ditangani tepat—diamati, dirawat, atau dicabut—masalah besar dapat dicegah.

Fenomena ini sesungguhnya relevan dengan banyak aspek kehidupan kita hari ini: kebijakan publik, organisasi, bahkan pembangunan sosial.

Sering kali kita memaksakan sesuatu untuk “tumbuh” tanpa menyiapkan ruang yang memadai. Program diluncurkan tanpa kesiapan sumber daya. Struktur dibentuk tanpa kejelasan fungsi. Jabatan diisi tanpa perencanaan kompetensi. Seperti gigi bungsu, niatnya baik—tetapi bila salah posisi, justru menjadi sumber sakit kolektif.

Merawat gigi bungsu bukan soal emosi, melainkan diagnosis yang jujur. Dokter gigi tidak bertanya apakah pasien “sayang” pada giginya, melainkan apakah gigi itu fungsional atau patologis. Bila masih bisa dirawat, maka dirawat. Bila berisiko menimbulkan komplikasi, maka dicabut dengan pertimbangan ilmiah.

Dalam konteks berbangsa dan berorganisasi, pendekatan ini sering kali terbalik. Kita mempertahankan sesuatu bukan karena manfaatnya, tetapi karena kebiasaan, kedekatan, atau rasa sungkan. Padahal, pembiaran justru memperbesar biaya sosial di kemudian hari.

Gigi bungsu juga mengajarkan bahwa pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan. Pemeriksaan rutin, foto rontgen, dan pemantauan sejak dini dapat menghindarkan tindakan operasi besar. Demikian pula kebijakan publik: perencanaan matang dan evaluasi berkala jauh lebih efektif dibanding perbaikan darurat setelah masalah membesar.

Lebih jauh, proses pencabutan gigi bungsu—meski menakutkan—sering kali membawa kelegaan. Nyeri yang hilang membuka ruang bagi fungsi lain untuk bekerja optimal. Rahang kembali seimbang. Kualitas hidup meningkat. Rasa sakit sementara justru menyelamatkan masa depan.

Kita kerap takut mengambil keputusan tidak populer, padahal itulah yang paling dibutuhkan. Kita takut “mencabut”, padahal yang kita cabut adalah sumber infeksi, bukan bagian vital.

Merawat gigi bungsu bukan soal menghilangkan yang tumbuh belakangan, melainkan menempatkan setiap hal sesuai ruang dan fungsinya. Jika ada ruang, rawatlah. Jika tidak, jangan dipaksakan. Keberanian memilih tindakan yang tepat adalah bentuk kepedulian tertinggi.

Bangsa yang sehat, organisasi yang kuat, dan sistem yang berkelanjutan tidak lahir dari pembiaran, melainkan dari keputusan rasional—meski terkadang terasa pahit.

Seperti gigi bungsu, tidak semua yang tumbuh harus dipertahankan. Tetapi semua yang muncul harus dievaluasi dengan jujur dan ditangani secara bertanggung jawab.

 

Penulis:

Mahasiswa Program Doktor Kedokteran Gigi

Universitas Padjadjaran, Bandung

Email: cahyono19001@mail.unpad.ac.id

Wa : 082322084054