PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan tren penurunan signifikan sepanjang tahun 2025. Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng mencatat hingga tahun berjalan terdapat 1.170 kasus DBD dengan 8 kematian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Riza Syahputra mengatakan, angka tersebut menurun tajam dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, tercatat 4.015 kasus DBD dengan 22 kematian, sementara pada 2023 jumlah kasus mencapai 4.661 dengan 25 kematian.
“Penurunan ini merupakan hasil dari berbagai upaya pengendalian dan pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat,” ujar Riza, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, tingginya kasus DBD pada periode 2023 hingga 2024 dipengaruhi oleh faktor iklim, khususnya fenomena El Nino. Suhu udara yang lebih panas mempercepat siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, sementara kondisi kekeringan mendorong masyarakat menampung air, yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Pada saat itu, kondisi lingkungan sangat mendukung peningkatan populasi nyamuk penular DBD. Karena itu, pengendalian berbasis lingkungan menjadi fokus utama kami,” jelasnya.
Untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus, Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng terus mendorong penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui program 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air secara rutin, serta melakukan langkah-langkah pencegahan tambahan seperti penggunaan larvasida dan pengendalian vektor.
Setiap laporan kasus DBD yang masuk, lanjut Riza, langsung ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi guna mendeteksi kemungkinan kasus tambahan di lingkungan sekitar, sekaligus melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
“Target penyelidikan epidemiologi yang kami lakukan mencapai 80 persen. Ini penting untuk memutus rantai penularan DBD sedini mungkin,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, sebaran kasus DBD sepanjang tahun 2025 tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 248 kasus, disusul Kota Palangka Raya sebanyak 194 kasus dan Kabupaten Murung Raya dengan 145 kasus.
Kabupaten Barito Utara tercatat 119 kasus, sementara Kotawaringin Timur melaporkan 102 kasus. Kabupaten Seruyan mencatat 67 kasus, Sukamara 64 kasus, Lamandau dan Katingan masing-masing 56 kasus, serta Gunung Mas sebanyak 50 kasus.
Di wilayah lain, Kabupaten Barito Timur melaporkan 30 kasus, Kapuas 29 kasus, dan Pulang Pisau 10 kasus. Sementara itu, Kabupaten Barito Selatan menjadi satu-satunya daerah yang tidak mencatatkan kasus DBD sepanjang tahun 2025.
Dengan tren penurunan tersebut, Riza mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan tetap aktif berperan dalam upaya pencegahan.
“Partisipasi masyarakat sangat menentukan. Jika kesadaran menjaga kebersihan lingkungan terus dilakukan, kami optimistis kasus DBD di Kalteng dapat terus ditekan,” pungkasnya. ldw





