JAKARTA/TABENGAN.CO.ID-Anggota MPR/DPD RI Dapil Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menyatakan, tingkat pengetahuan responden terhadap nilai-nilai kebangsaan yang menjadi 4 pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) yakni Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI telah relatif baik. Kendati demikian, masih terdapat ketimpangan pengetahuan antar 4 nilai kebangsaan tersebut.
“Ini catatan dari Litbang Kompas dalam survei yang digelar untuk memahami program sosialisasi nilai kebangsaan yang selama ini dijalankan MPR RI. Kami diberi data survei yang digelar pada responden mereka, serta diberi masukan dalam pertemuan yang digelar Rabu (27/1/2206) di Jakarta,” ungkap Teras Narang, Jumat (30/1).
Dijelaskannya, secara umum Pancasila yang diketahui dan dikenali dengan baik. Sedangkan UUD NRI 1945 yang juga konstitusi kita, adalah elemen nilai kebangsaan yang pengetahuannya paling rendah.
Selain aspek pengetahuan, lanjut Teras, tantangan terbesar adalah terkait internalisasi nilai-nilai kebangsaan tersebut yang secara keseluruhan masih pada tahap menengah. Skor internalisasi tertinggi di antara 4 nilai kebangsaan ini ada pada NKRI, yang menandai semangat masyarakat dalam mencintai dan menghidupi semangat nasionalisme kita. Namun sayangnya, Pancasila justru mendapat skor internalisasi terendah, meski pengetahuan atas Pancasila ini tinggi.
Gubernur Kalteng dua periode 2005-2015 itu menyebut, berdasarkan wilayah, masyarakat di Pulau Kalimantan dan kepulauan Maluku disebut butuh atensi penguatan atas pengetahuan serta internalisasi atas nilai-nilai kebangsaan.
“Sebuah temuan yang saya minta untuk didalami lebih. Meski temuan ini bisa jadi sebuah sinyal adanya persoalan ketimpangan pembangunan, khususnya pendidikan yang belum optimal ditingkatkan mutunya di wilayah tersebut,” katanya.
Bagaimana pun, ujar Teras, kesenjangan antara pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai kebangsaan ini menjadi pekerjaan bagi mereka di MPR RI dan sebenarnya bagi kita semua, termasuk pemerintah dari pusat hingga daerah.
“Survei ini menjadi potret masalah kebangsaan kita, yang mesti dengan cermat dikaji serta diperbaiki format sosialisasinya oleh MPR RI ke depan. Termasuk bagaimana MPR RI juga memberi rekomendasi bagi lembaga negara lain termasuk pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang menjadi cermin dari hadirnya nilai kebangsaan,” tegasnya.
Lebih jauh disampaikan, Pancasila terutama menjadi salah satu nilai yang perlu didorong untuk terus dapat diinternalisasikan dan dihidupi dalam praktik hidup masyarakat kita. Tentu saja, selain format sosialisasi dari MPR RI, keteladanan dari setiap anggota MPR RI dan seluruh pejabat negara juga menjadi aspek yang utama. Sebab keteladanan ini juga adalah praktik yang dilihat serta akan diikuti oleh masyarakat pada umumnya.
“Saya tak jemu mengajak semua kita, terlebih generasi muda, agar bersemangat menimba pengetahuan dan memantapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Meski tentu tidak mudah, karena nilai itu sendiri punya tantangan, termasuk dalam kebijakan-kebijakan publik yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan publik itu sendiri,” imbuh Teras.
Namun, lanjut dia, itulah gunanya perjuangan sebagai bangsa. Ia mengajak, bersama, mari membawa nilai kebangsaan sebagai pegangan bersama dalam hidup sosial kemasyarakatan, hingga cermin pengawalan dari setiap kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk masyarakat. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? ist
Pengetahuan 4 Nilai Kebangsaan Masih Timpang





