Spirit Kalteng

Pers Kalteng Berduka, Selamat Jalan Danny Tempo…

262
×

Pers Kalteng Berduka, Selamat Jalan Danny Tempo…

Sebarkan artikel ini
Pers Kalteng Berduka, Selamat Jalan Danny Tempo...
BERDUKA-Gubernur H Agustiar sabran saat datang menyampai dukacita kepada isteri bang Dani. Inset foto semasa hidup Karana Wijaya Wardana (Bang Dani tempo) FOTO TABENGAN/DODDY

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar insan pers di Kalimantan Tengah. Wartawan senior Karana Wijaya Wardana yang akrab disapa Bang Danny, berpulang dalam usia 61 tahun, meninggalkan jejak panjang pengabdian di dunia jurnalistik yang tak akan lekang oleh waktu.

‎‎Almarhum tercatat masih aktif sebagai jurnalis di harian Tempo dan Konten Kalteng.com hingga akhir hayatnya. Sosoknya dikenal luas di kalangan pewarta Kalteng sebagai pribadi yang bersahaja, tegas dalam prinsip, serta konsisten menjaga marwah profesi. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, namun juga bagi dunia pers daerah yang telah lama ia abdikan.

Di Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kalteng, Bang Dani dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Program dan Kerja Sama. Kepergian Beliau sangat mendukakan PWI Kalteng.

‎‎Almarhum Bang Danny meninggalkan seorang istri tercinta, Surya Srianti, yang juga berprofesi sebagai jurnalis Media Indonesia, serta dua orang anak, perempuan dan laki-laki, yang menjadi kebanggaan keluarga.

‎‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum wafat almarhum sempat mengikuti olahraga pagi bersama Gubernur Kalimantan Tengah H Agustiar Sabran, di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya. Seusai berolahraga, almarhum kembali ke rumah dan menikmati sarapan bersama keluarga.

‎‎Namun tak lama setelah itu, almarhum mengeluhkan pusing dan beristirahat. Secara tiba-tiba ia tidak sadarkan diri. Keluarga segera melarikannya ke RS Permata Hati Palangka Raya untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah sekitar 10 menit mendapatkan penanganan, pihak dokter menyatakan almarhum telah meninggal dunia.

‎‎Kepergian Bang Danny menjadi pukulan berat bagi rekan-rekan seprofesi. Di mata para jurnalis Kalteng, ia bukan sekadar wartawan senior, tetapi juga sosok panutan. Tulisan-tulisannya dikenal tajam, berimbang, serta berpihak pada kepentingan publik. Banyak karya jurnalistiknya yang menjadi rujukan dan catatan sejarah perjalanan pembangunan di Bumi Tambun Bungai.

‎‎Rekan-rekan sejawat mengenang almarhum sebagai pribadi yang tak pelit berbagi ilmu. Ia kerap menjadi tempat bertanya bagi jurnalis muda, memberi arahan tentang etika, akurasi, serta keberanian dalam menyampaikan kebenaran.

‎‎“Bang Danny bukan hanya menulis berita, tetapi menulis sejarah,” ungkap salah satu rekan sejawatnya dengan mata berkaca-kaca.

‎‎Kini, sosoknya memang telah tiada. Namun, karya-karyanya akan tetap hidup, menjadi bagian dari perjalanan dan sejarah insan pers Kalimantan Tengah. Dedikasi, integritas, dan semangatnya dalam menjaga independensi pers akan selalu dikenang.

‎‎Selamat jalan, Bang Danny. Jejak tulisanmu akan terus menjadi saksi dan inspirasi bagi generasi jurnalis berikutnya di Kalteng. mak/redfwa