
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam penguatan kapasitas kelembagaan dan dukungan terhadap program strategis Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Satu Rumah Satu Sarjana.
Rektor UMPR Assoc Prof Dr Muhamad Yusuf S.Sos. M.AP. menyampaikan, saat ini UMPR telah memiliki 39 program studi dan pada tahun 2026 akan bertambah 10 program studi baru yang sedang dalam proses finalisasi di kementerian.
“Sekarang kita sudah memiliki 39 program studi. Tahun 2026 ini insyaallah bertambah lagi 10 program studi yang sedang dalam proses diusulkan ke kementerian dan tinggal menunggu finalisasi. Sehingga totalnya nanti menjadi 46 program studi dengan 12 fakultas,” ujarnya, di Palangka Raya, Senin (23/2/2026).
Adapun 10 program studi baru tersebut meliputi Fisioterapi, Keperawatan, Anastesi, Okupasi Wicara, S2 Komunikasi, Magister Teknik Sipil, S3 Administrasi Publik, S1 Ilmu Politik, Akuntansi Publik, serta S2 Kehutanan.
Dengan capaian tersebut, UMPR kini menjadi salah satu perguruan tinggi swasta dengan program studi terbanyak di Kalimantan. Saat ini jumlah mahasiswa UMPR mencapai sekitar 11.500 orang.
“Jumlah mahasiswa kita sekarang ada 11.500. Kita menjadi salah satu kampus terbesar di Kalimantan. Ini tentu tidak lepas dari dukungan besar Pemerintah Provinsi dan para kepala daerah, sehingga kita bisa membuka program-program studi yang tingkat kesulitannya tinggi seperti kedokteran, psikologi dan lainnya,” katanya.
Rektor menjelaskan, UMPR juga mendukung program Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran untuk memperkuat implementasi program Satu Rumah Satu Sarjana. Di UMPR sendiri, sekitar 1.000 mahasiswa sedang dalam proses melalui program tersebut.
“Pak Gubernur kembali menugaskan kepada UMPR untuk memperkuat program Satu Rumah Satu Sarjana. Di UMPR sendiri sudah ada sekitar 1.000 yang sedang diproses,” jelasnya.
Namun, seiring dengan kebutuhan percepatan, Gubernur juga mendorong skema pendidikan yang lebih cepat melalui program Diploma 1 (D1), khususnya di bidang pertanian dan agroforestri.
“Kalau sarjana itu kan butuh waktu empat tahun. Beliau minta dalam satu tahun warga Kalteng, terutama lulusan SMA, SMK, MA, sudah punya kualifikasi pendidikan tinggi secara diploma satu,” ungkapnya.
Untuk mendukung program tersebut, UMPR mendapat formasi membuka Akademi Komunitas Muhammadiyah Palangka Raya dengan sistem pembelajaran 40 persen teori dan 60 persen praktik. Pola pembelajaran bersifat mobile, di mana dosen dan tim pengajar akan mendatangi daerah-daerah.
“Kita tidak harus memanggil mereka ke Palangka Raya. Justru kita yang bergerak, mendekati mereka. Polanya mobile, titik kumpulnya bisa di kabupaten masing-masing,” tegasnya.
Program ini disiapkan untuk mencetak tenaga siap pakai yang akan diarahkan bergabung dalam Brigade Pangan atau menjadi wirausaha di sektor pertanian. Kurikulum mencakup pembibitan tanaman, penggunaan alat dan mesin pertanian modern termasuk drone, hingga mekanisme pemasaran hasil pertanian.
“Mahasiswa akan belajar memuliakan tanaman, pembibitan, penggunaan alsintan modern seperti drone, sampai bagaimana memasarkan produk. Jadi bukan tanpa kurikulum, semuanya sudah dirancang matang,” katanya.
Ia menambahkan, lulusan program ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja sektor pertanian di Kalteng sehingga tidak lagi bergantung pada tenaga dari luar daerah.
“Selama ini alasan sektor swasta karena tidak ada SDM dengan kualifikasi tertentu di Kalteng. Maka harapannya ke depan, perusahaan-perusahaan bisa menyerap tenaga lokal karena kualifikasinya sudah setara,” ujarnya.
Selain penguatan program vokasi, UMPR juga merencanakan ekspansi kelembagaan dengan membuka kampus baru Muhammadiyah di wilayah Kotawaringin Barat. Rencana tersebut tengah dikonsultasikan dengan pemerintah daerah.
“Kita sudah proses membuka Universitas Muhammadiyah di wilayah Kotawaringin Barat. Rencananya langsung membuka Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan, IT, teknik, sains dan juga Kedokteran Hewan,” ungkapnya.
Di sisi infrastruktur, UMPR juga terus melakukan pembangunan. Saat ini terdapat pengembangan gedung tiga lantai lengkap dengan hall berkapasitas sekitar 3.000 orang, pembangunan gedung fakultas baru yang juga difungsikan sebagai hotel pendidikan, serta pengembangan pusat bisnis kampus.
“Wisuda kita sekarang sudah di atas 3.000 peserta sehingga harus dibagi tiga sampai empat kali dalam setahun. Itu menunjukkan animo masyarakat terus meningkat,” jelasnya.
Rektor menilai gerakan peningkatan partisipasi pendidikan tinggi di Kalteng merupakan langkah strategis yang belum banyak terjadi di daerah lain.
“Ini gerakan massal untuk mendorong masyarakat masuk perguruan tinggi dengan dukungan pembiayaan. Tantangannya memang kesiapan mental masyarakat, terutama di pedesaan, karena mereka membayangkan kuliah itu sesuatu yang jauh dan berat,” katanya.
Namun ia optimistis, dengan pendekatan yang adaptif dan dukungan penuh pemerintah daerah, program percepatan pendidikan ini akan berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kalteng.
“Misi Pak Gubernur sangat strategis karena menyasar sumber daya manusia. Jumlah penduduk mungkin sedikit, tapi kalau kualifikasinya tinggi, itu yang akan membuat Kalteng maju ke depan,” pungkasnya.ldw/red





