SAMARINDA/TABENGAN.CO.ID – Anggota DPD RI Dapil Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menyampaikan, Kalimantan bagaimanapun akan menghadapi transformasi besar sebagai imbas dari agenda nasional untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara, pemanfaatan sumber daya alam, hingga hadirnya dinamika geopolitik.
Untuk itu, imbuh Teras, transformasi ekonomi yang berbasis sumber daya alam perlu diimbangi dengan transformasi ekonomi yang berbasis sumber daya manusia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 yang jadi momen bonus demografi.
Teras mengemukakan, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) dapat memainkan peran strategis dalam agenda ekonomi berbasis sumber daya manusia ini dengan melakukan lompatan quantum (Quantum Leap). Dengan modal sosial yang dimiliki, melakukan peran mengimbangi pola pemerintah yang cenderung pada pembangunan ekonomi berbasis sumber daya alam di daerah dengan menyokong pula pembangunan sumber daya manusia, menggunakan aset pelayanan pada bidang pendidikan dan kesehatan yang saat ini terus dibenahi secara berkesinambungan dalam semangat kolaborasi.
“Ini simpulan catatan saya dalam Konven VI Pendeta GKE yang digelar di Samarinda, Rabu (11/3/2026), yang memberi perspektif pada para pendeta terkait apa saja tantangan dan peluang yang dapat diambil GKE mendukung visi Indonesia Emas 2045,” katanya.
Teras juga menyampaikan rekomendasi strategis yang dapat dipertimbangkan bagi GKE adalah selain penguatan kelembagaan dan mutu layanan pendidikan serta kesehatannya, adalah dengan membangun juga pusat riset sosial dan kebijakan GKE, menghadirkan gerakan konservasi lingkungan, advokasi hingga pemberdayaan ekonomi jemaat yang digerakkan oleh intelektual terbaik dari GKE dan jejaringnya.
Dengan langkah tersebut, gereja tidak hanya menjadi lembaga spiritual, tetapi juga pelaku transformasi sosial bagi masyarakat yang dilayani, khususnya di Pulau Kalimantan.
Mantan Gubernur Kalteng dua periode itu berharap, para pemimpin GKE ini juga akan melihat Visi Indonesia Emas 2045 menempatkan Kalimantan pada posisi geopolitik yang sangat strategis namun penuh risiko.
Keberhasilan transformasi pembangunan berbasis sumber daya manusia ini, sangat bergantung pada kemampuan masyarakat lokal untuk beradaptasi. Di sinilah peran GKE dan para pendetanya yang memimpin jemaat menjadi krusial. Bukan hanya sebagai lembaga dan pemimpin spiritual, tetapi sebagai mitra strategis pembangunan yang mampu menggerakkan pendidikan, menjaga kedaulatan ekologis, dan memperkuat resiliensi sosial masyarakat Kalimantan di tengah pusaran perubahan global yang juga turut berpengaruh terhadap kehidupan moral jemaat dan masyarakat.
Pada akhirnya, di tengah tantangan perubahan global, kerusakan ekologis, hingga kerusakan moral yang dipicu oleh beragam masalah seperti narkoba dan imbas perkembangan teknologi, kita perlu bertumpu pada dasar yang benar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah jawabannya dan itu bergantung sungguh pada kualitas layanan pendidikan dan kesehatan. GKE memiliki modal sosial dan intelektual untuk mengubah semua tantangan tersebut menjadi peluang pelayanan terbaik.
“Terakhir, kala diberikan kesempatan menyampaikan pendapat, saya menyampaikan agar ke depan GKE harus mampu memilah peran dan peranan Pendeta dan Non Pendeta dalam melayani dan mengabdi untuk kemajuan GKE kedepan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” pungkasnya. red





