PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) Herman Wibowo, Kamis (26/3/2026), mengungkapkan, Kalimantan Tengah (Kalteng) khususnya di Kabupaten Pulpis berdasarkan prediksi BMKG Kalteng akan bersiap menghadapi musim kemarau panjang pada bulan Juni hingga Agustus 2026 mendatang.
“Berdasarkan prediksi BMKG Kalteng, melalui zoom meeting Senin, 9 Maret 2026, mengatakan bahwa secara umum musim kemarau diprediksi maju sekitar 1 bulan di sebagian besar wilayah Kalteng,” ujar Herman, sapaan akrabnya.
Dikatakan Herman, sekitar pertengahan tahun atau pada semester II tahun 2026 terdapat peluang munculnya El Nino, dan berdasar prediksi Enso pada bulan-bulan mendatang juga menunjukkan kecenderungan memasuki fase positif El Nino yang dimulai pada bulan Juni 2026, dan seterusnya yang berpotensi meningkatkan kondisi lebih kering di beberapa wilayah.
Melalui prediksi tersebut, kata Herman, BMKG Kalteng merekomendasikan pada empat sektor. Pertama, sektor pangan agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim. Kedua, sektor sumber daya air untuk mengantisipasi potensi kekurangan air. Ketiga, sektor energi untuk menjaga ketersediaan pasokan. Keempat, sektor lingkungan dan kehutanan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Herman menambahkan, seperti apa yang disampaikan Kalaksa BPB-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib bahwa evaluasi Karhutla tahun 2025 menunjukan pengendalian Karhutla dapat berjalan baik karena kesiapsiagaan dini dan respons cepat. Sementara untuk tahun 2026, tambah Herman, diperkirakan memiliki tantangan lebih besar, karena potensi musim kemarau lebih kering, dan keterbatasan anggaran akibat efisiensi.
BPBD Provinsi, lanjut Herman, menekankan pentingnya pemanfaatan anggaran rutin secara optimal, penetapan ststus siaga darurat secara tepat waktu sebagai dasar penguatan koordinasi dan pembiayaan, serta pemahaman bersama, terkait mekanisme penggunaan belanja tidak terduga (BTT) sesuai ketentuan Permendagri.
“Seperti apa yang disampaikan BPBD Provinsi, tidak lanjut rekomendasi rakor Karhutla Oktober 2025 sebagai dasar kesiapsiagaan tahun 2026. Rencana dukungan udara 7 unit helikopter waterbombing, dan 2 unit helokopter patroli, dan untuk penetapan status darurat dinilai penting untuk membuka akses penggunaan BTT, dan juga perlunya optimalisasi sinergi dan koordinasi antar instansi dalam penanganan karhutla dengan mempertimbangkan keterbatasan,” jelasnya.
Herman menambahkan, melalui rapat zoom meeting itu, BPBD Pulpis menyampaikan bahwa Kabupaten Pulpis termasuk dalam Zom 12 yang diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal.
Langkah yang dilakukan Kabupaten Pulpis, melaporkan kepada Bupati terkait kondisi dan potensi Karhutla, termasuk penetapan status untuk mencegah pembakaran lahan, dan melakukan penghitungan sumber daya serta aset masyarakat peduli api (MPA).
“Kesimpulan dari rapat zoom meeting itu, bahaya karhutla yang dihadapi pada tahun 2026 ini lebih tinggi dibanding tahun 2025 dan 2024, yang diakibatkan musim kemarau atang lebih awal. Dimulai akhir Mei 2026, lebih kering, sifatnya di bawah normal, dan lebih panjang, sekitar 5 bulan, serta berpotensi terjadi El Nino lemah yang dimulai pada bulan Juni 2026,” bebernya.
Akhir perbincangan, Herman menyebutkan, berdasarkan petunjuk Provinsi Kalteng, pemerintah kabupaten/kota diminta untuk memperkuat upaya penanggulangan Karhutla melalui pergeseran Anggaran BTT sesuai Permendagri Nomor 14 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2026. mye/red





