+Kalteng Berpotensi Alami El Nino Lemah–Moderat di Pertengahan Tahun 2026
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya meluruskan bahwa istilah “Godzilla El Nino” yang sempat beredar di masyarakat bukan merupakan istilah resmi dalam kajian meteorologi.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini menyampaikan bahwa dalam klasifikasi ilmiah, fenomena El Nino hanya dibagi menjadi tiga kategori, yakni lemah, moderat, dan kuat.
“Dari BMKG sendiri tidak ada istilah ‘Godzilla El Nino’. Secara resmi hanya ada kategori El Nino lemah, moderat, dan kuat,” ujarnya kepada Tabengan, Jumat (27/3/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan prediksi terbaru BMKG, terdapat peluang sekitar 50 hingga 60 persen terjadinya El Nino dengan kategori lemah hingga moderat pada pertengahan tahun 2026.
Fenomena El Nino tersebut diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap pola musim kemarau di Indonesia, termasuk di wilayah Kalteng.
Lebih lanjut, ia memprakirakan awal musim kemarau di Kalteng akan dimulai secara bertahap pada akhir Mei 2026. Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada periode Juli hingga Agustus.
“Untuk durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung dari dasarian III Mei hingga dasarian III Agustus 2026, yakni dipertengahan tahun,” lanjutnya.
Dengan adanya potensi El Nino, kondisi cuaca di wilayah Kalteng berpeluang menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang kerap menjadi ancaman saat musim kemarau.
BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tersebut. Salah satu langkah penting yang ditekankan adalah tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan selama musim kemarau, di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi, vitamin, serta memastikan asupan cairan tubuh tetap terpenuhi.
“Diharapkan masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat, vitamin, dan air putih yang cukup,” pungkasnya. dte/red





