Milenial Rentan Stres

Tabengan.com – Berdasarkan penelitian di Amerika, Milenial usia 18 sampai 33 tahun rentan terkena gejala stres.

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang lebih awal. Disebut juga sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an

Menurut Rosdiana Setyaningrum dari Dzone Terapi Center, ada tugas perkembangan yang harus terpenuhi menurut rentang usia. Tugas perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:

Pada usia 1-3 tahun, anak diharapkan dapat ‘mandiri’. Pada usia 4-6 tahun, anak diharapkan sudah bisa memilih dan menerima resiko atas pilihannya. Pada usia 6-12 tahun, anak diharapkan bisa berprestasi di bidang yang paling dikuasai. Pada usia 12-17 tahun, masa remaja, di mana dimulainya pencarian jati diri. Generasi Milenials 18 – 33 tahun (usia produktif), masa peralihan dari remaja menuju dewasa, di mana tuntutan semakin tinggi dan tanggung jawab semakin bertambah.

Ada 4 Faktor Penyebab Milenials Rentan Stres:

1. Tuntutan Keluarga
Pada tahap ini, orang tua di Indonesia mengharapkan agar putra-putrinya lekas menikah. Berbeda dengan yang terjadi di luar negeri di mana keputusan untuk menikah adalah hak pribadi tanpa campur tangan keluarga. Tagar #Kapan Kawin timbul dari kegelisahan Milenials akan waktunya berumah tangga.

2. Pemenuhan Kebutuhan Pokok Bagi yang Sudah Berkeluarga
Kegiatan membangun keluarga baru sambil mengasuh anak yang masih kecil membutuhkan tenaga ekstra. Belum lagi tekanan dalam meniti karir di kantor. Kesemuanya dilakukan sambil berupaya memenuhi kebutuhan dasar berupa rumah.

Seperti kita ketahui bahwa harga rumah di kota besar makin lama makin tinggi. Sehingga banyak Milenia membeli rumah yang jauh dari lokasi bekerja. Hal ini mengakibatkan jarak tempuh yang lebih lama untuk sampai di tempat beraktivitas.

3. Paparan Media Sosial
Pernah dengar tagar #Kapan kawin atau istilah Instagram Boyfriend? Secara tidak langsung istilah semacam ini timbul dari kegelisahan di antara Milenial.

Media sosial dapat berperan besar dalam menambah beban psikologis bagi generasi Milenia. Dahulu kalimat sindiran “Kapan kawin?” biasanya hanya berasal dari lingkungan keluarga terdekat, saudara atau teman. Tapi sekarang istilah yang sifatnya sarkas justru berasal dari orang yang tidak kita kenal di dunia maya.

Beban semakin bertambah akan tuntutan gaya hidup mengacu pada role model yang biasa dilihat dari akun media sosial seperti Instagram atau Facebook. Keinginan untuk tampil sempurna dan keren ala selebgram memunculkan istilah Instagram Boyfriend.

4. Persaingan yang Semakin Meningkat
Generasi Milienials hidup di masa pasar bebas global. Kebutuhan untuk selalu meningkatkan kapasitas diri mengejar standar kehidupan yang dianggap layak juga menambah faktor stres. Persaingan dunia kerja maupun usaha membutuhkan konsentrasi dan mental yang mumpuni. Dibutuhkan kreativitas dan upaya perbaikan yang konsisten.

Lebih lanjut, pada tahapan usia matang dewasa, 35 tahun ke atas, kebutuhan untuk dapat berperan dalam masyarakat semakin tinggi. Kesadaran membina lingkungan sekitar untuk menjadi lebih baik juga terjadi pada masa ini. Tujuannya untuk meningkatkan self esteem.

Kalau tugas perkembangannya tidak terpenuhi pada rentang usia tertentu, pada usia 40-an beban semakin meningkat. Hal ini juga dapat menjadi pemicu stres dan depresi.

Orang yang pada rentang usia Milenia-nya bekerja tidak sesuai passion atau bekerja sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan, akan memunculkan orang dewasa yang pada masa purna baktinya cenderung mengalami post power syndrom. Karena selama masa hidupnya merasa belum melakukan apa-apa.

Stres yang dikelola dengan baik dapat menjadi penyemangat agar taraf hidup meningkat. Sebaliknya, apabila stres dibiarkan justru berdampak pada depresi yang efeknya sangat merugikan.

Sebaiknya pemakaian media sosial disikapi dengan bijak agar tidak menjadi sumber stres. Pengenalan diri sendiri sangat diperlukan dalam hal ini agar dapat memilah konten yang positif bagi pengembangan diri.t-com