Spirit Kalteng

Minat Baca Masyarakat Hanya 0,01 Persen

5
×

Minat Baca Masyarakat Hanya 0,01 Persen

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Era digitalisasi sekarang ini sedikit banyak berdampak bagi masyarakat Indonesia, termasuk di Kalteng. Informasi, pengetahuan dan berbagai hal lainnya dapat diperoleh dengan mudah melalui sebuah gawai. Kemudahan mendapatkan informasi dan kebutuhan pengetahuan, membuat minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,01 persen.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalteng Susana Ria Aden menjelaskan, sebuah survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 lalu menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat 60 dari total 61 negara. Artinya, Indonesia menempati peringkat kedua terendah dalam hal membaca yang bila dipersentasekan pada angka 0,01 persen.

“Persentase itu berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari separuh populasi penduduk Indonesia, atau sekitar 132,7 juta. Data dari Perpustakaan Nasional pada tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia hanya 3-4 kali setiap minggu, sementara jumlah buku yang dibaca hanya 5-9 buku setiap tahun,” kata Susana, saat menyampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Pembudayaan Gemar Membaca dan Menulis di Palangka Raya, Kamis (22/8).

Dikatakan, minat baca ini berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pengguna internet pada 2018 sebanyak 171,17 juta jiwa atau 64,8 persen dari total populasi penduduk Indonesia sebanyak 264,16 juta jiwa. Jumlah pengguna internet itu meningkat dibandingkan tahun 2017 yang hanya 143,26 juta jiwa, atau sekitar 54,58 persen.

Padahal, kata Susana, kegemaran membaca menjadi wahana belajar sepanjang hayat. Tujuannya mewujudkan pembangunan sumber daya manusia melalui perpustakaan, dalam mendukung sistem pendidikan nasional, sesuai dengan visi dan misi Gubernur menuju Kalteng Berkah. Meningkatnya gemar membaca, tentu sebuah upaya pengembangan perpustakaan ke depannya.

“Harapan besar, perpustakaan tidak hanya berada di perkotaan. Perdesaan juga dapat dijangkau dengan adanya perpustakaan. Apabila memang perpustakaan mobile tidak mampu mencapai, alokasi dana desa dimungkinkan dapat digunakan untuk membuat perpustakaan desa,” katanya. ded