PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Jumlah kasus yang terpapar virus HIV/AIDS di Kota Palangka Raya hingga 2022 cukup tinggi. Dari data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Palangka Raya, setidaknya tercatat lebih dari 600 kasus orang terinfeksi HIV/AIDS.
Sekretaris KPA Kota Palangka Raya Susi Idawati menuturkan, persentase terbesar penyebab penularan HIV/AIDS nyatanya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu hubungan seks tidak aman dan berisiko.
Seperti diketahui, kata Susi, penularan hanya dapat terjadi melalui 4 hal, yakni melalui darah, cairan sperma maupun cairan vagina dan air susu ibu (ASI) yang telah mengidap HIV/AIDS sebelumnya.
“Penyebab risiko penularan tertinggi didominasi oleh aktivitas seksual lelaki seks lelaki (LSL) ataupun homoseksual. Nah, selanjutnya ialah mereka yang heteroseksual,” kata Susi, Kamis (1/12).
Dari data yang berhasil dihimpun KPA, jelas Susi, penyumbang kasus terbanyak dimulai dari orang yang bekerja sebagai swasta, lalu mahasiswa, PNS/honorer/pensiunan, pekerja seks komersial dan ibu rumah tangga. Menariknya, dari data yang ada justru pekerja seks komersial jumlah kasus penyebarannya ada di bawah pegawai pemerintahan.
“Yang tentu kita khawatirkan adalah kasus yang menimpa anak balita. Untuk tahun 2022, anak usia di bawah 4 tahun masih belum terdata. Tapi di tahun 2021 ada 3 kasus. Harus ada banyak intervensi yang diberikan pada orang tua yang terkena HIV/AIDS ketika akan mempunyai anak,” tuturnya.
Dijelaskan Susi, intervensi yang bisa dilakukan bagi orang tua yang memiliki HIV/AIDS adalah dengan menunda kehamilan bagi yang belum hamil. Perempuan yang sudah hamil disarankan untuk tetap meminum obat antiretroviral, serta saat persalinan menyiapkan persalinan yang baik, 6 jam sebelum kelahiran orang tua wajib minum ARV.
Selain itu, saat bayi lahir orang tua yang positif terkena HIV/AIDS di tengah menyusui untuk memberikan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif selama 6 bulan berturut-turut tanpa putus semenjak bayi dilahirkan.
Susi yang juga Anggota Komisi C DPRD Kota Palangka Raya mengakui, penularan HIV dari ibu ke bayi cenderung terus meningkat, seiring bertambahnya angka perempuan terpapar HIV/AIDS di Indonesia. Tapi, data prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi masih terbatas, namun tren penularan akan terus naik karena jumlah perempuan hamil positif HIV cenderung meningkat.
“Bahkan KPA Nasional mencatat paling tidak, dari sekitar 4,5 juta kehamilan di Indonesia setiap tahun, diperkirakan sekitar 25 persennya berisiko menimbulkan penularan HIV dari ibu ke bayinya,” bebernya.
Untuk itu, KPA Kota Palangka Raya terus memperkuat langkah pencegahan. Pihaknya tetap bekerja sama dengan layanan kesehatan, yakni Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Melalui layanan terintegrasi dengan TB-HIV, diadakan konseling yang bisa di Puskesmas selain di RS Doris Silvanus, peningkatan petugas layanan yang melayani HIV/AIDS, pertemuan bersama Kelompok Dukungan Sebaya, pertemuan lintas sektor dengan stakeholder dan instansi-instansi, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat serta beberapa program lainnya.
“Intinya, kembali kepada kesadaran individual untuk menjaga diri agar tidak tertular dan menularkan kepada orang lain. Dan terpenting, hilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” pungkas Susi. rgb





