Terbentur Habis Masa Jabatan, Taty Narang Tidak Sempat Resmikan Rumah Betang

Miky Prasetya

PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Pembangunan Rumah Betang yang terletak di Jalan Bhayangkara, merupakan impian masyarakat Pulpis. Proses pembangunan Rumah Adat terbesar di Bumi Handep Hapakat ini pun sempat mandek atau macet selama bertahun-tahun dan bahkan sempat menuai pertanyaan, kenapa belum dilanjutkan pembangunannya.

Di masa kepemimpinan Bupati Pulpis Pudjirustaty Narang inilah, pembangunan Rumah Betang menjadi prioritas. Bahkan Bupati Taty Narang, sapaan akrabnya ini, memerintahkan agar pembangunan Rumah Betang ditargetkan fungsional tahun 2023. Sayangnya, orang nomor satu dan Bupati perempuan pertama di Bumi Handep ini belum sempat meresmikan, pasalnya pembangunan tersebut belum selesai 100 persen.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) Usis I Sangkai melalui Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Miky Prasetya, Selasa (19/9/2023), saat dikonfirmasi Tabengan mengatakan, progres pembangunan Rumah Betang sudah berada di 80 persen berjalan.

Setelah selesai pembangunan Rumah Betang itu, kata Miky, akan terus berlanjut, dan akan kembali dianggarkan untuk pembangunan Sanggar termasuk penataan halaman.

“Untuk tahun 2023 ini target kita sudah fungsional, dan DAD bisa berkantor di dalamnya, kemudian nanti ada kegiatan kebudayaan dan bisa dilaksanakan di Aulanya,” beber Miky.

Sementara untuk kontrak pembangunan Rumah Betang ini, kata Miky, berakhir di bulan Oktober 2023, dan pada awal November 2023 akan ada serah terima dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pulpis ke Dewan Adat Dayak (DAD) sebagai pemilik bangunan.

“Tanah bangunan Rumah Betang ini kan tanah DAD, dan kita membangunkan saja di tanah DAD, setelah itu fungsional maka kita serahterimakan ke DAD,” terangnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) Edvin Mandala mengatakan, peruntukan dan penggunaan rumah betang tersebut, kedepannya direncanakan sebagai tempat pengembangan budaya masyarakat dayak, baik sebagai museum mini, galeri, perguruan bela diri, sanggar, kantor DAD dan banyak lagi peruntukannya.

“Nantinya, setelah rumah betang itu rampung, maka juga akan ada rapat-rapat besar disitu, dan juga untuk berbagai kegiatan kebudayaan adat,” bebernya.

Lebih lanjut, untuk selesainya pembangunan rumah betang itu DAD juga mengharapkan dapat diresmikan oleh Bupati Pulpis Pudjirustaty Narang, dan sayangnya, hal itu belum bisa terwujud, karena masih belum selesainya pembangunan. Sedangkan untuk finishingnya atau ke depannya, tambah Edvin, akan disesuaikan dengan konstruksi dan ornamen kedayakannya. c-mye