*Murid Kelas IV SDN Tewas Disambar
PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID- Nasib tragis dialami M Habil (10) murid kelas IV SDN Mendawai Seberang, Kabupaten Kotawaringin Barat. Saat berenang di Sungai Arut bersama teman-temannya, tiba-tiba seekor buaya jenis Sapit ukuran 5 meter, menerkam dan menyeretnya ke dalam sungai, Sabtu (26/11) pukul 10.30 WIB.
Informasi di lokasi kejadian, sebelum tenggelam, korban sempat berteriak minta tolong kepada teman-temannya, tetapi begitu teman-temannya mendekat, tubuh korban sudah masuk ke dalam sungai.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat bantaran Sungai Arut. Ratusan warga menyaksikan langsung seekor buaya Sapit membawa tubuh korban, bahkan saat buaya tersebut muncul ke permukaan, masyarakat bersama tim gabungan, berusaha mencari cara untuk mengevakuasi korban dari mulut buaya tersebut.
Plt Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Syahruni melalui Kabid Kabid Pemadaman, Penyelamatan dan Sarana Prasarana Dwi Agus Suhartono menjelaskan, pukul 10.30 WIB Mako Damkar menerima laporan masyarakat RT 5 Kelurahan Mendawai Seberang, yang menyampaikan ada anak hilang yang diduga diterkam buaya di perbatasan RT 7 dan RT 8 Kelurahan Mendawai Seberang.
Kemudian sekitar pukul 11.15 WIB, semua potensi SAR telah berkumpul di sekitar perairan Sungai Arut. Potensi tersebut terdiri dari Damkar Kobar, Satpolairud Polres Kobar, BPBD Kobar, Basarnas Kobar dan Balakar Huma Singgah Itah Kelurahan Mendawai. Tim langsung melakukan penyisiran untuk berusaha menyelamatkan korban yang bernama M Habil, murid Kelas 4 SDN Mendawai Seberang.
“Sempat terpantau beberapa kali penampakan buaya, yang di mulutnya ada membawa jenazah korban, dan sekitar pukul 13.52 WIB buaya tersebut sempat muncul kembali ke permukaan dengan membawa tubuh korban,” kata Dwi Agus.
Karena tubuh korban belum dilepas juga oleh buaya tersebut, akhirnya warga pun melakukan penangkapan buaya dengan cara ditombak. Sekitar pukul 15.14 WIB, buaya berhasil ditangkap warga, kemudian dibunuh dan dibelah perutnya, karena diduga buaya ini telah memakan korban. Namun ternyata, setelah dilakukan pembedahan tidak ditemukan korban dalam perut buaya.
Dwi Agus melanjutkan, setelah 8 jam percarian, akhirnya sekitar pukul 20.32 WIB, tim gabungan dan warga berhasil menemukan tubuh korban. Menggunakan jaring di tempat tidak jauh dari buaya melepas tubuh korban. Setelah ditemukan, korban langsung dibawa ke rumah duka.
Kapolres Kobar AKBP Bayu Wicaksono menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas kejadian ini. Polres Kobar akan terus melakukan upaya mitigasi, terutama preemtif dan preventif.
“Kejadian ini jadi pembelajaran bagi kita semua, agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas di sungai. Untuk itu kami mengimbau kepada seluruh masyarakat menjaga keselamatan diri dan keluarganya, hindari aktivitas di sungai terutama mandi, berenang dan mencuci,” kata Kapolres Kobar.
Sementara itu, Kepala Seksi BKSDA Kalteng SKW 2 Pangkalan Bun Dendi Setiadi mengatakan, sebelumnya belum pernah terjadi buaya menerkam manusia di bantaran Sungai Arut. Bahkan dalam waktu 10 tahun terakhir ini, pihaknya gencar melakukan sosialisasi dan mitigasi, kegiatan tersebut dilakukan dalam waktu sebulan.
“Masyarakat bantaran Sungai Arut ini memiliki kearifan lokal, yang selama ini menganggap buaya yang ada adalah leluhur mereka, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan baik-baik saja, akan tetapi kami tetap memberikan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat di bantaran Sungai Arut,” kata Dendi, Minggu (26/11).
Menurut Dendi, dari sudut pandang pihaknya, konservasi buaya juga bagian dari ekosistem Sungai Arut sejak dahulu, karena terjadi irisan aktivitas yang menyebabkan konflik serta alih fungsi kawasan yang menyebabkan sering munculnya buaya ke permukaan sungai. Sebab yang tadinya habitat buaya, kini jadi bantaran permukiman sungai.
Dendi menambahkan, Petugas SKW II bersama Petugas BPBD Kobar, Damkar Kobar dan relawan telah mengevakuasi bangkai buaya dari lokasi kejadian di Kelurahan Mendawai Seberang ke daerah Bamban untuk dikuburkan. Lokasi penguburan di belakang TPU Bamban pada Minggu. c-uli





