PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Musim kemarau yang berlangsung di Kalimantan Tengah (Kalteng) memberikan dampak terhadap sektor pertanian. Kondisi tersebut semakin dirasakan petani karena sebagian besar lahan pertanian di wilayah Kalteng merupakan lahan pasang surut yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalteng Rendy Lesmana mengatakan, fenomena El Nino turut memberikan pengaruh terhadap sektor pertanian. Meski demikian, pihaknya berharap kondisi cuaca mulai membaik seiring dengan perkiraan datangnya hujan pada September hingga Oktober.
“Kalau melihat tradisi BMKG, September sampai bulan Oktober nanti semoga sudah bisa ada turun hujan. Walaupun memang El Nino masih tetap moderat dan bisa diprediksi sampai tahun depan, tetapi kalau sudah ada hujan diperkirakan di bulan Oktober, kita masih ada musim tanam berikutnya,” ujar Rendy, di Palangka Raya, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, musim tanam Oktober-Maret (Okmar) menjadi momentum penting bagi petani untuk kembali meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian setelah menghadapi kondisi kemarau.
“Musim tanam kita kan Okmar, Oktober-Maret. Jadi kita masih ada musim tanam berikutnya yang bisa meningkatkan lagi,” katanya.
Rendy mengakui bahwa kondisi kemarau saat ini tetap memberikan dampak terhadap pertanian. Salah satu persoalan utama yang dihadapi petani adalah keterbatasan air untuk mengairi lahan.
“Ya, pasti terdampak,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan air, pemerintah telah menyiapkan sejumlah pompa air di berbagai lokasi pertanian. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan ketersediaan air, terutama di kawasan yang mengalami kekeringan.
“Jauh-jauh hari kita sudah menyediakan air pump, air pompa perpipaan, menambah dukungan. Beberapa titik-titik ada yang misalkan dari Menteri Pertanian yang diberikan secara langsung,” jelas Rendy.
Namun, penyediaan pompa air tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan. Kondisi geografis dan karakteristik lahan pertanian di Kalteng menjadi tantangan tersendiri.
“Permasalahannya juga kan tidak semudah itu, karena wilayah-wilayah kita kebanyakan memang kekurangan air,” ungkapnya.
Selain kekurangan air, sejumlah kawasan pertanian yang berada di sekitar pesisir juga menghadapi persoalan kualitas air. Rendy mencontohkan wilayah Lampuyang yang airnya mulai terasa payau ketika musim kemarau.
“Ada juga wilayah-wilayah, misalkan di pinggir-pinggir pantai seperti di daerah Lampuyang sana, itu kan airnya sudah agak payau,” katanya.
Kondisi tersebut membuat petani cenderung menahan diri untuk melakukan penanaman pada penghujung musim tanam. Menurut Rendy, periode Agustus-September lebih banyak dimanfaatkan petani untuk menunggu datangnya musim tanam berikutnya.
Rendy menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik lahan pertanian di Kalteng yang mayoritas merupakan lahan pasang surut. Berbeda dengan daerah seperti Pulau Jawa yang banyak memiliki sistem irigasi teknis, lahan pasang surut sangat dipengaruhi kondisi musim dan ketersediaan air.
“Lahan kita rata-rata kan lahan pasang surut, bukan irigasi seperti di Jawa. Kalau pasang surut ya seperti itu, musim kemarau habis,” jelasnya.ldw/ded-red











