-
SPIRIT POLITIK

KARHUTLA KALTENG MENINGKAT-712 Hotspot untuk 101 Kejadian

46
×

KARHUTLA KALTENG MENINGKAT-712 Hotspot untuk 101 Kejadian

Sebarkan artikel ini
Ahmad Toyib Kepala BPBPK Kalteng
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang hampir setiap tahun mengancam Kalimantan Tengah (Kalteng). Meskipun langkah antisipasi telah dilakukan, kasus karhutla masih saja terjadi. Bahkan, belakangan grafiknya terus meningkat.

Menurut Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalteng Ahmad Toyib, dari 1 Januari hingga 21 Juli 2024 telah terjadi 101 kejadian karhutla di kabupaten/kota se-Kalteng.

“Sejak awal tahun, total hotspot mencapai 712 titik dengan 101 kejadian karhutla,” kata Toyib, di Palangka Raya, Senin (22/7).

Menurutnya, karhutla terjadi hampir di seluruh wilayah Kalteng dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 266,02 hektare. Data BPBPK Kalteng menunjukkan Kabupaten Barito Utara mencatat kejadian karhutla tertinggi dengan 33 kali kejadian karhutla.

Diikuti Kota Palangka Raya 22 kali, Barito Selatan 11 kali, Katingan 7 kali Kotawaringin Barat 4 kali, Kotawaringin Timur 5 kali, Gunung Mas 2 kali, Barito Timur 1 kali, Sukamara 7 kali, Pulang Pisau 3 kali, Lamandau 1 kali, Murung Raya 5 kali.  Sementara Kabupaten Kapuas dan Seruyan Nihil kejadian.

Toyib menambahkan, saat ini hanya Kabupaten Kotawaringin Timur yang telah menetapkan status siaga darurat karhutla mulai 5 Juli sampai dengan 2 Oktober 2024 mendatang.

Sementara itu, Plt Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Budi menyebut, pihaknya bakal menggencarkan patroli guna mencegah terjadi kebakaran lahan.

“Kami akan melakukan patroli di titik rawan kemudian langsung memadamkan jika ada potensi kebakaran,” kata Hendrikus saat dihubungi Tabengan, Senin (22/7).

BPBD Kota Palangka Raya mencatat hingga Juli 2024 luas hutan dan lahan terbakar mencapai 8,30 hektare dari 13 kejadian.

Karhutla paling banyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya dengan 9 kali kejadian, disusul Sebangau 2 kejadian, Pahandut dan Bukit Batu masing-masing 1 kali terjadi karhutla.

Budi mengatakan, perlu kerja sama dari seluruh pihak untuk mencegah kebakaran termasuk relawan dan Masyarakat Peduli Api (MPA) di kecamatan atau kelurahan masing-masing.

“Penegakan sanksi hukum untuk pembakar lahan juga perlu dilakukan,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Perencanaan Bencana BPBD Palangka Raya Heri Fauzi menyebut, berdasarkan pantauan yang dilakukan, rata-rata faktor itu terjadi akibat kelalaian.

“Dari pantauaan kami di lokasi rata-rata disebabkan oleh faktor kesengajaan dan kelalaiaan saat mebuka lahan,” imbuhnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat yang akan melakukan pembukaan lahan, jangan dilakukan dengan cara membakar, karena itu memiliki dampak yang besar.

Berdasarkan informasi dari hasil deteksi dini Pemetaan Risiko Berbasis Analisa Dini (Perisai) kondisi Kota Palangka Raya pada 22 Juli 2024 menunjukan tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah sangat tinggi.

BPBD Palangka Raya mengingatkan agar setiap tim di masing-masing kelurahan bisa melakukan patroli untuk mencegah terjadi karhutla dengan skala yang lebih luas. rmp

-
-
-