Dispursip Kalteng Rekam Kekayaan Budaya Dayak dalam Buku

Dispursip Kalteng Rekam Kekayaan Budaya Dayak dalam Buku
FOTO: Kepala Dispursip Kalteng Adiah Chandra Sari

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Upaya melestarikan budaya Dayak di Kalimantan Tengah kembali diperkuat melalui langkah strategis Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Bersama Lembaga Betang Lestari, Dispursip tengah menyusun tujuh buku budaya yang berisi cerita rakyat, tradisi, hingga peralatan khas masyarakat Dayak yang selama ini banyak hidup dari mulut ke mulut.

Kepala Dispursip Kalteng, Adiah Chandra Sari, mengungkapkan bahwa penyusunan 7 buku budaya tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah provinsi dalam mendokumentasikan serta mengabadikan kekayaan budaya Dayak secara tertulis.

Pada 25–26 November lalu, Dispursip menggelar Forum Group Discussion (FGD) selama 2 hari di Aula Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalteng.

Dalam forum tersebut, draft awal buku dipaparkan dan dibahas secara mendalam bersama berbagai pemangku kepentingan.

“Kami mengundang budayawan, antropolog, seniman, penulis, editor, ilustrator hingga anak-anak sekolah. Masukan dari berbagai kalangan ini sangat penting agar buku tersebut benar-benar mewakili keberagaman pandangan masyarakat,” jelas Adiah, Jumat (28/11).

Menurutnya, kehadiran pelajar dalam forum ini juga menjadi bagian dari strategi menanamkan kecintaan budaya kepada generasi muda sejak dini.

Adiah menjelaskan bahwa 7 buku tersebut memuat berbagai aspek budaya Dayak yang dinilai penting untuk terdokumentasi dengan baik.

Tujuh buku tersebut di antaranya adalah kesah bue 1, kesah bue 2, ritual manenung dan manajab antang, mengenal balanai, pasah keramat dan pasah patahu, mengenal ‘main’ suku dayak ngaju dan evolusi penutup kepala dalam budaya dayak ngaju.

“Banyak peralatan dan tradisi yang dulu digunakan leluhur kita, tetapi sekarang mulai asing di mata generasi muda. Dengan buku ini, semua itu bisa kembali diperkenalkan,” lanjutnya.

Adiah menilai penyusunan buku ini juga merupakan respons terhadap kekhawatiran akan lunturnya identitas budaya di tengah gempuran globalisasi. Ia menyebut banyak anak muda kini lebih akrab dengan budaya luar seperti Korea atau Tiongkok dibanding budaya leluhurnya sendiri.

“Arus globalisasi sekarang kita lihat anak-anak muda kita bahkan lebih mengenal budaya asing, Korea, budaya Cina barangkali melalui drama-drama Korea, drama Cina kemudian juga musik-musik merek yang kita akui memang cukup bagus. Tetapi sebenarnya kalau kita mengenal lebih jauh tentang budaya kita khususnya dalam hal ini adalah budaya suku Dayak Kalimantan Tengah, akan terpana bahwa betapa beragamnya, indahnya budaya kita disertai dengan bukti-buktinya itu tentu dengan perlengkapan-perlengkapan yang dulu pernah dipakai oleh leluhur kita. Dalam rangka itulah buku-buku ini dibuat, disusun untuk menggali kembali, memperkenalkan namanya tradisi-tradisi leluhur kita yang mungkin banyak tidak dikenal oleh maum muda ya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga warisan nenek moyang, tetapi juga upaya membangun kebanggaan terhadap jati diri daerah dan bangsa.

Penyusunan 7 buku budaya ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut Adiah, Dispursip telah lama menjalin komunikasi dengan para penulis dan pegiat budaya yang menyampaikan keresahan mereka mengenai banyaknya tradisi yang belum terdokumentasikan.

“Gayung bersambut. Kami menyadari pentingnya pelestarian budaya dan berkomitmen memfasilitasi apa yang menjadi harapan para penulis dan masyarakat,” ujar Adiah.

Ia menegaskan bahwa meskipun sudah ada banyak buku terkait budaya Dayak, masih banyak tradisi dan peralatan khas yang perlu direkam secara lebih rinci dan utuh.

Kemudian Adiah menjelaskan draft buku kini sedang disempurnakan berdasarkan kritik dan masukan para ahli dan masyarakat yang hadir. Adiah berharap hasil akhirnya nanti mampu diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, generasi muda, hingga akademisi.

“Buku ini adalah bagian dari ikhtiar kita menjaga agar akar budaya tidak tercerabut. Jangan sampai generasi mendatang tidak lagi mengenal tradisi dan peralatan leluhur kita,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran tujuh buku budaya ini dapat membangkitkan kecintaan baru terhadap budaya Dayak sekaligus memperkuat literasi budaya Kalteng.nws