PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Warga Jalan Rajawali I Ujung RT 04 RW XXV, Kelurahan Bukit Tunggal Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, mengeluhkan kondisi jalan dan saluran drainase yang tidak pernah mendapat perbaikan sejak tahun 2007. Akibatnya, warga di Gang I hingga Gang V terpaksa melakukan perbaikan secara swadaya dengan dana terbatas yang dikumpulkan dari masyarakat setempat.
Perbaikan dilakukan dengan menimbun jalan menggunakan tanah uruk dan pasir serta membuat siring sederhana untuk mengalirkan air. Namun, karena bersifat sementara dan tidak permanen, kondisi jalan kembali rusak dan terendam banjir saat hujan deras.
Ketua RT 04, Henuy Y Luhing, mengatakan bahwa jalan tersebut kerap tergenang parah ketika hujan turun lebih dari dua jam. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya sistem drainase yang memiliki arah pembuangan air.
“Kalau hujan dua jam saja, bukan hanya banjir, tapi seperti danau. Air menutup semuanya karena drainase tidak ada arah pembuangannya,” ujar Henuy, Jumat (16/1).
Ia menjelaskan, warga telah berulang kali mengajukan proposal perbaikan jalan dan drainase kepada Pemerintah Kota Palangka Raya setiap tahun, termasuk terakhir melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada 12 Januari 2026. Namun hingga kini, belum ada realisasi perbaikan.
“Saya sudah hampir 30 tahun tinggal di sini. Sudah tiga kali pergantian wali kota, mulai dari Tuah Pahoe, Riban Satya, sampai Fairid Naparin. Tapi kondisi jalan ini tetap seperti ini, tidak pernah diperbaiki,” ungkapnya.
Henuy menegaskan, seluruh perbaikan yang dilakukan selama ini murni berasal dari swadaya masyarakat tanpa bantuan pemerintah. Warga secara sukarela mengumpulkan dana untuk membeli material seperti kayu, tanah uruk, dan pasir, lalu melaksanakan kerja bakti sesuai kemampuan yang ada.
“Kami minta sumbangan secara sukarela. Sedikit demi sedikit terkumpul, lalu kami kerja bakti semampunya,” tuturnya.
Kondisi terparah, lanjut Henuy, terjadi sepanjang tahun 2025. Banyak rumah warga terendam banjir hingga merusak perabotan rumah tangga. Bahkan, hewan liar seperti ular kerap masuk ke dalam rumah warga akibat genangan air yang tinggi.
“Drainase bisa dibilang tidak ada sama sekali di sini. Jangankan jalan tanah, jalan yang diaspal saja seharusnya ada drainase, tapi di sini tidak ada,” tegasnya.
Selain itu, kondisi jalan yang licin dan berlubang juga membahayakan anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah. Tidak sedikit anak yang terjatuh hingga menangis dan terpaksa tidak masuk sekolah.
“Ada anak yang jatuh sampai menangis karena bajunya basah semua. Kami bingung harus bagaimana lagi, karena sudah sering kami timbun dan buat siring, tapi karena tidak permanen, akhirnya hanyut lagi terbawa air,” katanya.
Warga berharap Pemerintah Kota Palangka Raya tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut dan segera merealisasikan pembangunan drainase serta pengaspalan jalan agar lingkungan mereka terbebas dari banjir.
“Kami berharap pemerintah melihat langsung kondisi lingkungan kami. Yang terpenting ada drainase dan jalan tidak banjir lagi, supaya warga merasa aman dan nyaman saat melintasi jalan,” pungkas Henuy. mak





