PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H Agustiar Sabran menegaskan komitmennya mendorong pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi kreatif sebagai upaya memutus rantai kemiskinan, saat menerima kunjungan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto di Palangka Raya.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Agustiar menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan daerah. Ia menyampaikan bahwa kemajuan suatu wilayah sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan masyarakatnya.
“Pendidikan untuk memutus rantai kemiskinan. Di manapun suatu daerah atau negara maju dilihat dari pendidikannya. Bila pendidikannya rendah, pasti negara itu akan tetap menjadi negara berkembang bahkan bisa di bawah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Kalteng memiliki program unggulan “satu rumah satu sarjana” sebagai bagian dari visi misi pembangunan daerah. Program tersebut ditujukan agar generasi muda, khususnya dari pedalaman hingga perkotaan, memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
“Kami punya program satu rumah satu sarjana. Bagaimana orang daerah itu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, jangan sampai hanya menjadi penonton,” katanya.
Agustiar menambahkan, Kalteng memiliki wilayah yang luas dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar, sehingga perlu didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar potensi tersebut dapat dikelola oleh masyarakat lokal.
“Kalimantan Tengah ini sangat luas, satu setengah Pulau Jawa. Suku Dayak saja kurang lebih ada 60 sub suku. Kekayaan sumber daya alam sangat besar. Presiden juga pernah menyampaikan bahwa Kalimantan Tengah adalah masa depan Indonesia,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pola pikir generasi muda yang masih berorientasi menjadi aparatur sipil negara setelah lulus kuliah. Menurutnya, ke depan pemerintah akan membuka peluang lain melalui pengembangan ekonomi kreatif yang memanfaatkan kekayaan alam dan budaya daerah.
“Generasi muda ketika lulus kuliah tujuannya hanya menjadi ASN. Padahal kita kaya akan sumber daya alam. Kita akan menggalakkan ekonomi kreatif, dari kerajinan, herbal, makanan khas, dan banyak lagi yang bisa dikelola,” tuturnya.
Agustiar menilai silaturahmi dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, menjadi langkah penting dalam mendorong percepatan pembangunan di daerah.
“Dengan silaturahmi kita bisa membangun koordinasi, mudah mendapatkan informasi, dan mudah melakukan kebersamaan. Dengan itu kita bisa mengantisipasi apa yang harus kita lakukan ke depan,” katanya.
Ia juga menyampaikan kondisi anggaran daerah yang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap optimistis program prioritas, terutama di bidang pendidikan, tetap dapat berjalan.
“Tahun sebelumnya anggaran kita sekitar Rp10,2 triliun, sekarang menjadi sekitar Rp5,3 triliun. Tapi kami tetap ingin generasi muda dari pedesaan hingga perkotaan lulus sarjana dengan target 15.000 orang,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengatakan bahwa keterbatasan justru sering menjadi pemicu lahirnya kreativitas besar. Ia menilai semangat para pelaku kreatif di Kalteng memiliki potensi kuat untuk berkembang.
“Dalam perjalanan hidup saya berkarya, proses kreativitas sering terjadi dari keterbatasan. Deadline, modal kurang, tidak punya studio, alat terbatas, justru itu menjadi energi besar untuk membuat sesuatu yang besar,” ungkap Yovie.
Ia mengaku melihat langsung kualitas sumber daya manusia di Kalteng, khususnya para pemuda dan pejuang ekonomi kreatif, yang dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata.
“Saya melihat para pemuda kreatif di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah dari sisi visi, pemikiran, dan kemampuan itu sudah di atas rata-rata. Tinggal dipoles dan diberikan energi tambahan,” katanya.
Menurut Yovie, dukungan kecil berupa fasilitas, ruang berkumpul, dan pembinaan bisa menjadi pemicu tumbuhnya ekosistem kreatif yang kuat, mulai dari kerajinan, UMKM, hingga fashion.
“Tidak perlu mewah, tapi kalau ada tempat berkumpul untuk berkolaborasi, itu bisa menjadi skala awal untuk sukses, baik kerajinan, UMKM, fashion, dan karya anak bangsa lainnya,” ucapnya.
Ia juga menilai sektor ekonomi kreatif merupakan ekonomi masa depan karena tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas.
“Suatu saat sumber daya alam akan habis kalau tidak dikelola dengan baik. Tapi kekayaan pemikiran dan kreativitas manusia bisa bertahan lama. Itulah kenapa ekonomi kreatif disebut ekonomi masa depan,” tuturnya.
Yovie optimistis, dengan kekayaan budaya, sumber daya alam, serta peningkatan kualitas pendidikan, Kalteng memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi kreatif di Kalimantan dalam beberapa tahun ke depan.
“Saya tidak heran apabila lima tahun ke depan Kalimantan Tengah bisa menjadi sentra ekonomi kreatif terbesar di Kalimantan. Energinya ada, semangatnya ada, dan potensinya sangat besar,” pungkasnya. ldw





