Spirit Kalteng

Imlek 2577 Kongzili, Suriansyah Halim: Momentum Refleksi dan Penguat Kebersamaan di Tahun Kuda Api

261
×

Imlek 2577 Kongzili, Suriansyah Halim: Momentum Refleksi dan Penguat Kebersamaan di Tahun Kuda Api

Sebarkan artikel ini
Imlek 2577 Kongzili, Suriansyah Halim: Momentum Refleksi dan Penguat Kebersamaan di Tahun Kuda Api
Ketua Penegak Hukum Rakyat Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua Perkumpulan Pengacara dan Konsultan Hukum Indonesia (PPKHI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Suriansyah Halim

‎PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau Imlek 2026 menjadi momen istimewa bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ketua Penegak Hukum Rakyat Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua Perkumpulan Pengacara dan Konsultan Hukum Indonesia (PPKHI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Suriansyah Halim, menyampaikan bahwa Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, melainkan momentum refleksi dan penguatan kebersamaan.

‎Menurut Suriansyah Halim, Imlek 2026 memiliki makna mendalam bagi keluarga dan komunitas Tionghoa. “Imlek adalah saat yang sangat penting untuk memperkuat dan menghangatkan kembali kebersamaan keluarga serta komunitas. Selain sebagai pergantian tahun, Imlek juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan hidup, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan identitas budaya Tionghoa di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk,” ujarnya. Selasa (17/2/2026).

‎Ia menambahkan, kehangatan keluarga, doa bersama, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun menjadi inti dari perayaan tersebut. Nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur menjadi fondasi yang terus dijaga lintas generasi.

‎”Di tengah perkembangan zaman, sejumlah tradisi Imlek tetap dijaga dan dilaksanakan hingga kini. Tradisi pemberian angpau atau amplop merah, misalnya, dimaknai sebagai simbol berbagi rezeki sekaligus doa keberuntungan” ungkapnya.

‎Pertunjukan barongsai dan naga juga masih menjadi bagian penting dalam perayaan. Atraksi tersebut dipercaya membawa semangat baru sekaligus mengusir hal-hal negatif. Sementara itu, dekorasi bernuansa merah dan emas yang menghiasi rumah maupun tempat ibadah melambangkan kebahagiaan, kemakmuran, dan keberuntungan.

‎Tradisi makan bersama keluarga dengan hidangan khas seperti kue keranjang dan mie panjang umur pun tetap dijalankan sebagai simbol doa panjang umur dan kelimpahan rezeki. Puncak perayaan Imlek ditandai dengan Cap Go Meh pada hari ke-15, yang dirayakan melalui festival lampion dan doa bersama.

‎Tahun 2026 dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai Tahun Shio Kuda dengan unsur Api. Suriansyah Halim memaknai simbol tersebut sebagai energi dan semangat baru.

‎“Kuda melambangkan energi, semangat, kecepatan, dan ketangguhan. Unsur Api menambah keberanian, ambisi, serta dorongan untuk maju menjadi lebih baik. Kombinasi ini menggambarkan tahun yang penuh dinamika,” jelasnya.

‎Namun demikian, ia mengingatkan agar semangat dan ambisi tetap diimbangi dengan kehati-hatian, agar tidak terjerumus ke jalan yang salah.

‎“Filosofinya bukan siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang mampu menjaga pijakan dengan kuat. Kita harus berani melangkah besar, namun tetap bijak agar tidak terbakar oleh ambisi sendiri,” katanya.

‎Lebih lanjut, Suriansyah Halim berharap Tahun Kuda Api dapat menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia terutama di Kalteng untuk bangkit lebih kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang kini menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa dan daerah.

‎“Semangat Kuda Api harus menjadi energi kolektif untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman. Imlek sendiri adalah simbol toleransi budaya yang hidup harmonis di Indonesia,” ujarnya.

‎Ia optimistis, dengan kerja keras, ketangguhan, dan solidaritas, kesejahteraan masyarakat dapat terus meningkat. Terutama di dalam meningkatkan segala sesuatu perlu kerjasama dan saling menghargai adalah salah satu kunci.

‎“Doa saya, semoga Tahun Baru Imlek 2026 ini membawa kedamaian, keberuntungan, dan kesehatan bagi keluarga kita semua, seluruh rakyat Indonesia, serta semakin memperkuat rasa kebersamaan lintas budaya dan agama,” pungkasnya. mak/redfwa