PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Suasana pasca Idulfitri tak hanya ditandai dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatnya arus perpindahan penduduk ke Kota Palangka Raya. Fenomena tahunan ini kembali terjadi pada 2026.
Kepala Disdukcapil Kota Palangka Raya Sabirin Muhtar mengungkapkan, peningkatan aktivitas pelayanan sudah terasa sejak hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran. Menurutnya, lonjakan tersebut didominasi oleh masyarakat yang mengurus dokumen kependudukan, termasuk perpindahan domisili atau mutasi.
“Memang ada lonjakan, terutama dalam pengurusan administrasi kependudukan. Mungkin ngurus mutasi dan sebagainya,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, sebagian pendatang yang datang ke Palangka Raya berasal dari provinsi tetangga, khususnya Kalimantan Selatan. Selain itu, peningkatan juga dipengaruhi oleh momentum penerimaan anggota kepolisian, serta warga yang baru memasuki usia 17 tahun dan mulai mengurus KTP elektronik.
“Untuk sementara ini, pendatang didominasi dari Kalimantan Selatan. Kalau dari Jawa masih belum terlalu banyak, kemungkinan mereka masih berada di kampung halaman karena suasana Lebaran,” tambahnya.
Sabirin memprediksi, arus pendatang dari luar Kalimantan, khususnya Pulau Jawa, biasanya mulai terlihat sekitar satu bulan setelah Lebaran. Hal ini berkaitan dengan tradisi Lebaran ketupat yang masih dirayakan sebagian masyarakat, sehingga mereka cenderung menunda keberangkatan ke tempat kerja.
Mengantisipasi peningkatan pendatang, Disdukcapil mengimbau masyarakat yang pindah domisili agar segera melapor kepada Ketua RT atau pihak kelurahan setempat. Hal ini penting untuk memastikan tertib administrasi dan memudahkan pelayanan apabila terjadi kendala di kemudian hari.
“Paling tidak lapor ke RT atau kelurahan. Kalau ada masalah administrasi, segera hubungi petugas Dukcapil,” tegasnya.
Meski terjadi peningkatan aktivitas, Sabirin memastikan ketersediaan blanko KTP elektronik masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam waktu satu bulan ke depan.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ia menilai jumlah pendatang pada 2026 cenderung lebih sedikit. Faktor kondisi ekonomi global diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya mobilitas penduduk.
“Lebih banyak tahun lalu kalau saya lihat daripada tahun ini. Mungkin alasannya karena ekonomi, karena masalah global kan,” katanya.
Diketahui pada periode 2–9 April 2025 lalu atau sepekan setelah Idulfitri, tercatat sebanyak 28 kepala keluarga (KK) datang ke Palangka Raya dari 17 daerah berbeda, di antaranya Pulpis, Kapuas, Pontianak, Malang, Sidoarjo, Kobar, Kotim, Barut, Gumas, Katingan, Barsel, Pati, Sukoharjo, Banjarmasin, Kediri, Batam, Nganjuk.
Pendatang terbanyak saat itu berasal dari Kotawaringin Timur, Barito Utara, Gunung Mas, dan Katingan, masing-masing sebanyak tiga KK.
Sementara itu, untuk tahun 2026, data pasti jumlah pendatang masih dalam proses pendataan. Namun demikian, tren peningkatan pengurusan administrasi sudah menjadi indikator awal adanya pergerakan penduduk pasca-Lebaran.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya terus mengingatkan pentingnya kepatuhan administrasi bagi setiap pendatang, guna menjaga ketertiban data kependudukan sekaligus mendukung perencanaan pembangunan yang lebih akurat. nws/red





