Ekobis

SUSU UHT DAN PLASTIK MAKIN MAHAL-Pengusaha Kedai Kopi Lokal Mulai ‘Kembang Kempis’

67
×

SUSU UHT DAN PLASTIK MAKIN MAHAL-Pengusaha Kedai Kopi Lokal Mulai ‘Kembang Kempis’

Sebarkan artikel ini
SUSU UHT DAN PLASTIK MAKIN MAHAL-Pengusaha Kedai Kopi Lokal Mulai 'Kembang Kempis'
TRANSAKSI- Barista sedang melayani pembeli di Kafe Disperin Jalan Semeru No 4 Palangka Raya. FOTO TABENGAN/RAHUL

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Tren meminum kopi atau ngopi kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan bagi banyak kalangan. Namun, di balik kenikmatan segelas es kopi susu yang segar, para pemilik kedai kopi kini tengah didera kecemasan hebat. Kenaikan harga bahan baku utama seperti susu Ultra High Temperature (UHT) dan kemasan cup plastik mulai mencekik margin keuntungan mereka.

​Fenomena ini menjadi dilema nyata yang dirasakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor food and beverage. Di satu sisi, biaya operasional melonjak tajam, namun di sisi lain, menaikkan harga jual kepada konsumen bukanlah perkara mudah di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.

​Salah seorang pemilik kedai kopi Disperin Coffe di kawasan Palangka Raya, Bayu Prima SBW mengungkapkan bahwa kenaikan harga susu UHT dalam beberapa bulan terakhir sangat terasa dampaknya. Susu UHT merupakan komponen paling vital untuk menu-menu populer seperti Cafe Latte atau Es Kopi Susu Gula Aren.

​”Kenaikannya memang tidak sekaligus drastis, tapi bertahap dan konsisten. Kalau kita hitung per karton, selisihnya sangat terasa. Belum lagi harga cup plastik dan sedotan yang juga ikut naik karena harga bahan baku plastik global,” ujar Bayu saat dibincangi Tabengan, Kamis (16/4/2026).

​Kenaikan ini memaksa para pemilik kedai untuk memutar otak. Strategi efisiensi mulai diterapkan, mulai dari mencari pemasok alternatif hingga mengurangi margin keuntungan demi menjaga harga tetap kompetitif. Namun, strategi ini tentu memiliki batas. Jika tren kenaikan terus berlanjut, pilihan pahit untuk menaikkan harga menu menjadi tak terelakkan.

​”Kami berada di posisi sulit. Kalau harga naik, kami takut pelanggan setia akan lari. Tapi kalau harga tetap, kami yang ‘berdarah-darah’ menutupi biaya produksi,” tambah pengusaha tersebut.

​Kondisi ini mencerminkan tantangan besar bagi industri kopi lokal yang sedang bertumbuh pesat. Para pelaku usaha berharap ada intervensi atau kebijakan dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan pokok industri kreatif, agar bisnis yang digemari anak muda ini tidak tumbang di tengah jalan.
​Bagi para penikmat kopi, kenaikan harga mungkin akan segera menyapa meja-meja kedai favorit mereka. Sebuah konsekuensi logis dari rantai ekonomi yang kian mahal, di mana setiap tetes susu dan selembar plastik kini memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. rmp/rca-red