KUALA KAPUAS/tabengan.co.id – Agar seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Tengah pada umumnya dan Kabupaten Kapuas khususnya terhindar dari segala bala yang mengancam, Basir Balian se-Kabupaten Kapuas menggelar ritual Mamapas Lewu, Kamis-Jumat (19-20/3/2020).
Kegiatan tersebut dipusatkan di Balai Adat atau Basarah. Setidaknya ada 7 Basir yang dianggap punya keahlian khusus dan paham akan bahasa Sangiang ditunjuk untuk memimpin ritual.
Sebagaimana diterangkan Basir Upu, dalam bahasa Dayak Kapuas Ngaju, Mamapas mempunyai makna menyapu dan Lewu berarti kampung atau kota tempat tinggal serta pemukiman manusia. Jadi garis besarnya ritual Mamapas Lewu ini diartikan sebagai upacara membersihkan kampung desa atau kota tempat tinggal dengan tujuan agar seluruh masyarakat dapat terhindarkan dari segala bala bencana.
Kegiatan Mamapas Lewu selalu dilakukan karena adanya suatu kejadian yang berhubungan dengan peristiwa berdarah, seperti pembunuhan, ancaman keselamatan atau suatu musibah akibat serangan penyakit yang menimpa seluruh penduduk kampung atau kota. Ini bisa juga dimaknakan sebagai pembayaran hajat (niat hajat jika tercapai keinginan).
Sejak zaman dulu, sebagaimana kepercayaan dan keyakinan umat Hindu Kaharingan, upacara ritual ini hanya bisa dilaksanakan oleh para Basir/Balian, yaitu orang tertentu yang mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan bahasa Sangiang bersama roh-roh gaib penjaga alam semesta ini.
Ketua Majelis Daerah Hindu Kaharingan Kabupaten Kapuas Sulatin mengatakan, dalam ritual Mamapas Lewu ini ada beberapa bagian acara ritual yang harus dilakukan, antara lain Balian Tantulak Dahiang yang artinya menyingkirkan atau mengusir roh-roh jahat sehingga tidak bermukim dan mengganggu masyarakat Kapuas. Kemudian Balian Batahur Sahur Lewu, memberi makan para leluhur yang menjaga Kabupaten Kapuas dengan menyiapkan sesaji yang telah disiapkan sedemikian rupa.
Para Basir Upu yang mendapatkan kepercayaan tersebut antara lain Abau, Master, Gatak, Liun, Kris, Dambes dan Basir Pugu. Ritual ini dilaksanakan sampai 2 hari 2 malam. Selanjutnya akan diadakan acara ritual Balian Tantulak Dahiang, yaitu melarutkan batang Humbang Salentup (sejenis bambu) dan kayu Bindang Garing serta sesajen yang akan dihanyutkan di Sungai Kapuas dengan makna segala bala bencana dan kesialan ikut hanyut ke lautan yang luas bersama kedua benda dan sesajen yang dilarutkan. c-yul











