Oleh: Christina Wolu Kada S.Si-Teol
Matius 17:14-21
Jika ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada kita, “Apakah kita percaya kepada Yesus Kristus?” Saya yakin dengan serentak kita akan menjawab, “Tentu saya percaya!”
Percaya bahwa Yesus Kristus itu ada, tentu baik daripada tidak percaya sama sekali. Tetapi tidak ada istimewanya, karena setan pun percaya bahwa Yesus Kristus itu ada. Oleh karena itu, pertanyaan pun berkembang menjadi pertanyaan yang lebih penting:
“Apakah Yesus itu penting dalam hidup kita?” “Tentu!” Mungkin jawab kita masih begitu. Tetapi mari kita masing-masing mengecek diri dengan sebuah pertanyaan, misalnya, “Di mana kita menempatkan Yesus di rumah kita?” Di luar rumah, sebagai satpam yang menjaga keamanan? Sebagai hiasan dinding? Di ruang tamu? Atau di mana?
Bila Yesus itu penting, Yesus bukanlah satpam penjaga. Bukan sekadar hiasan dinding. Tidak cuma seorang tamu, atau barang antik yang cuma sekali-kali kita butuhkan, bukan juga “ban serep” yang baru kita ingat kalau kita perlukan.
Tetapi seperti itulah kita manusia. Ada orang yang hidupnya diberkati Tuhan, mengambil sikap untuk mengucap syukur kepada Tuhan, tetapi ada juga yang diberkati hidupnya “lupa dan tidak ingat untuk mengucap syukur”. Bahkan sebaliknya, ada orang yang baru ingat Tuhan ketika mengalami pergumulan dan penderitaan hidup, namun ketika hidupnya membaik, ia kembali kepada kebiasaannya.
Dari zaman ke zaman iman itu ternyata milik sebagian kecil orang saja. Juga di zaman Yesus. Dikisahkan, ada seorang anak yang menderita sakit ayan yang parah, dan murid-murid jatuh iba melihat penderitaan anak itu. Mereka berusaha keras untuk menyembuhkan tetapi gagal (ay.16).
Murid-murid Yesus pun bingung, sehingga bertanya pada Yesus, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (ay.19). Jawab Yesus sangatlah sederhana, “Karena kamu kurang percaya!” Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: “Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah dan tidak ada yang mustahil bagimu.” (ay.20).
Perkataan Yesus ini adalah sebuah sindiran yang sangat tajam. Biji sesawi itu adalah biji yang sangat kecil. Sangat ironis, murid-murid yang telah sekian lama mengikut Yesus dan hidup bersama Yesus ternyata iman sebiji sesawi saja mungkin mereka tidak punya.
Percaya (to believe) itu gampang, tetapi mempercayakan diri (to trust) itu yang sering menjadi persoalan. Apakah di samping percaya, kita mau mempercayakan diri?
“Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Karena kita kurang mempercayakan diri kepada Kristus, kita tidak berani memikirkan hal-hal yang besar yang berasal dari Kristus, dan karena itu menyibukkan diri dengan hal-hal kecil dan remeh yang berada dalam batas kemampuan kita.
Iman sekalipun hanya sebesar biji sesawi dapat mempunyai kemampuan yang begitu besar, karena dengan iman, kita tidak lagi membatasi diri dengan kemampuan diri kita sendiri, tetapi terbuka terhadap kuasa Allah yang bekerja. Oleh karena itu, mari pandang Yesus, percayakan diri kepada-Nya dan beri diri untuk dikuasai oleh kuasa-Nya. Amin.





