PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID – Tradisi ‘Menyandau Durian’ yang artinya panen buah durian, merupakan kearifan lokal masyarakat Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. Tradisi tersebut hingga saat masih tetap terlestarikan, guna mendukung budaya masyarakat lokal pemerintah daerah Kobar pun sangat mendukung.
Tradisi Menyandau durian ini, merupakan panen buah durian yang dilakukan pada malam hari, biasanya masyarakat yang akan melakukan Menyandau durian ini, rela berjalan kaki kiloan-meter, untuk mendekati pohon durian yang siap panen.
Keunikan dari Menyandau durian ini, masyarakat pun rela menunggu berjam jam disebuah pondok, hingga durian itu jatuh sendiri dari pohonnya.
Keunikan dari tradisi Menyandau durian ini pun menarik perhatian Penjabat Bupati Kotawaringin Barat Budi Santoso Sudarmadi. Beberapa Waktu lalu Pj Bupati Kobar Budi Santosa didampingi Plh Sekda Kobar Juni Gultom bersama kepala SOPD, mendatangi desa Panahan Kecamatan Arut Utara, untuk Menyandau Durian.
Seperti diketahui, bahwa beberapa desa di Kecamatan Arut Utara terkenal memiliki potensi kekayaan alam dan hasil buah hutannya, salah satunya ialah buah durian yang sangat digemari oleh masyarakat.
“Ini adalah pengalaman baru bagi saya, dan ini menjadi pengalaman berharga, bagaimana menikmati buah durian yang langsung dari kebun masyarakat,” kata Budi Santosa.
Pj Bupati juga berharap, kegiatan “Menyandau Durian” ini nantinya dikemas lebih baik lagi, mengingat buah durian selain bisa menjadi komoditas, kegiatan Menyandau juga memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan makna.
“Menyandau ini menjadi budaya masyarakat yang harus dilestarikan, tidak hanya di sisi perdagangan memandang durian sebagai sebatas komoditas, namun juga bisa menjadi atraksi pariwisata, dan kedepan harus dikemas lebih baik lagi didukung oleh seluruh stakeholder yang ada,” ungkap Budi Santosa.
“Kita lihat tadi bagaimana seluruh warga desa berkumpul di wilayah hutan, saling berinteraksi dan masing-masing tidak saling mengambil buah durian yang bukan menjadi hak nya, ini adalah kearifan lokal dan bisa menjadi pesan yang kuat buat kita semua,” tambah Budi Santosa.
Budi Santosa juga menilai kegiatan “Menyandau” juga menjadi wadah untuk memperkenalkan budaya dan kekayaan alam desa Panahan dan desa lainnya di Arut Utara kepada pengunjung yang datang. yuliantini











