Resensi Buku Berjudul “Kuyang” Karya Achmad Benbela

Resensi Buku Berjudul "Kuyang" Karya Achmad Benbela

Sub judul – Cerita Horor Khas Kalimantan Tengah

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Novel bertema horor karya Achmad Benbela sebelum ditulis dalam bentuk novel perdananya, sudah viral dalam bentuk kisah horor yang difavoritkan pembaca di Wattpad dan kaskus.

Cerita kisah horor dengan judul ” Kuyang” ini juga viral yang ditonton lebih dari 2 juta di youtube. Tebal buku 301 Halaman, Penerbit gagasmedia tahun terbit 2022.

Tokoh utama di dalam novel ini adalah Bimo, seorang guru honorer yang bertahun-tahun hidup tanpa penghasilan yang cukup di tanah kelahirannya di Gunung Kidul, yogyakarta.

Cerita di dalam novel ini berawal dari tahun 2018, bimo dan isterinya menginjakkan kaki di Kalimantan untuk merubah nasib dan memperbaiki nasib hidup mereka lebih baik lagi.

Dan diangkat menjadi CPNS sebagai seorang guru di tempat tugas pedalaman Kalimantan Tengah di sebuah Desa bernama Muara Tapah yang letaknya sangat jauh dan terpencil dan untuk menempuh perjalanan ketempat tugas Bimo dan isterinya, harus melalui jalur darat dan dilanjutkan melalui sungai yang penuh dengan jeram-jeram.

Kondisi sungaia yang dangkal hanya bisa dilalui kendaraan transportasi sungai khas Kalimantan Tengah yaitu klotok.

Klotok merupakan perahu sungai tradisional yang dilengkapi dengan motor tempel atau mesin ketinting sebagai pendorong perahu untuk melaju diatas air bergerak cepat seperti layaknya kapal.

Muara Tapah merupakan tempat tugas Bimo diangkat sebagai CPNS, yang penduduk daerah atau putra daerahpun, ketika ditugaskan disana tidak ada yang mau.

Bahkan ada yang pindah atau mengundurkan diri, karena jauh, terpencil, dan susahnya bertugas disana. Belum lagi suasana yang sangat mistis, Muara Tapah yang alur cerita yang sangat kuat didalam novel karangan Achmad Benbela ini.

Sungai Muara Tapah juga dihuni ikan tapah, yang spesies ikan ini hanya terdapat disini. Sejenis ikan yang mirip dengan piranha yang sangat ganas, dan menyukai daging.

Di Desa Muara Tapah, Bimo mempunyai rekan kerja mengajar yaitu Pak Kasno sebagai Kepala Sekolah dan Pak Tingen yang bertugas sebagai guru Agama Kaharingan. Kaharingan adalah kepercayaan/ agama asli suku dayak kalimantan.

Dari awal Bimo datang ke kampung yang sekarang dia bertugas terdapat kejanggalan, penduduknya hanya beberapa orang saja.

Itupun rata-rata sudah tua, wajah mereka sangat suram dengan pakaian yang lusuh. Tubuh mereka kurus dan pucat, seperti orang yang terkena penyakit. Dan yang lebih aneh lagi, tidak terlihat satu pun anak kecil di kampung ini.

Ketika penulis membaca novel ini, serasa terhipnotis dengan jalan ceritanya. Begitu nyata, dan ketika membacanya, satu lembarpun tidak terlewatkan.

Cerita kuyang dalam novel ini merupakan kisah horor khas Kalimantan Tengah. Sering diceritakan secara lisan dari orangtua zaman dulu dan sampai sekarang. Namun jarang mengangkatnya dalam bentuk buku novel.ist