DPRD MURUNG RAYA

Ketua DPRD Ajak Lestarikan Bahasa Dayak Siang

17
×

Ketua DPRD Ajak Lestarikan Bahasa Dayak Siang

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Ajak Lestarikan Bahasa Dayak Siang
WAWANCARA-Ketua DPRD Kabupaten Mura Doni mengaku prihatin saat diwawancara terkait dengan terancam punahnya Bahasa Dayak Siang, di Puruk Cahu. TABENGAN/JOKO SANTOSO

PURUK CAHU/TABENGAN.CO.ID – Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya Doni mengaku sedih sekaligus prihatin mengetahui informasi berkenaan dengan terancam punahnya Bahasa Dayak Siang. Terlebih adanya informasi yang menyatakan sudah ada 2 desa pengguna asli Bahasa Dayak Siang yang tidak lagi menggunakan bahasa tersebut.

Politisi PDI Perjuangan ini meminta, masyarakat Adat Siang untuk dapat memperhatikan, menjaga, dan melestarikan Bahasa Dayak Siang.

“Saya terkejut juga mendengar informasi itu, pasalnya, saya pribadipun dalam berbahasa daerah aktif. Saya bertemu dengan warga U’ut Danum, Dayak Ngaju, dan Dayak Bakumpai saya menyapa mereka dengan bahasanya masing-masing. Apa lagi Bahasa Dayak Siang merupakan Bahasa Ibu kami, tentu tiap hari kami pergunakan,” kata Doni, belum lama ini.

Ke depannya, Poltitisi PDI-P ini berharap, penggunaan Bahasa Dayak Siang terutama di lingkungan warga Dayak Siang dapat lebih dimaksimalkan. Tujuannya menjaga sekaligus  bentuk pelestarian Bahasa Dayak Siang. Generasi muda Dayak Siang diminta jangan malu menggunakan bahasanya dalam berkomunikasi terkhusus dikomintasnya sendiri.

“Kemampuan berbahasa bukan hanya berkomunikasi dalam bahasa Dayak saja saya aktif. Beberapa bahasa daerah lain seperti Banjar dan Jawa saya juga bisa. Namun, kendati demikian saya akan lebih bangga dan senang, jika saya dan lawan bicara saya berkomunikasi dengan bahasa Dayak Siang yang merupakan Bahasa Ibu di Kabupaten Mura ini,” imbuhnya.

Jadi itu semua, lanjut Doni, menjadi literasi bersama. Kedepan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan supaya menekankan para guru di jenjang SD, SMP, dan SMA untuk memberikan waktu khusus berbicara dalam bahasanya masing-masing.

“Hal ini harus kita fasilitasi, bukan hanya memerintahkan semisal guru menanyakan sesuatu dalam bahasa Dayak Siang, dan dijawab murid dengan menggunakan bahasa yang sama. Dimulai dari guru yang berbahasa daerah tentu, dengan serta merta para murid akan turut menggukan bahasa yang digunakan guru tersebut,” tutupnya.c-sjs