PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalimantan Tengah (Kalteng) 2024, kemunculan buzzer menjadi salah satu fenomena yang tak dapat dihindari. Buzzer yang bermunculan di berbagai media sosial ini terbagi menjadi buzzer organik dan buzzer anorganik.
Buzzer organik berasal dari partai politik itu sendiri, bukan bayaran. Sedangkan buzzer anorganik, ialah buzzer yang pengikut akun media sosialnya merupakan pengikut tidak asli. Pengikut buzzer anorganik biasanya merupakan bot.
Buzzer-buzzer yang ada tersebut juga muncul di berbagai postingan sosial media dari calon kepala daerah tertentu. Fenomena buzzer politik ini kemudian menjadi sorotan bagi berbagai kalangan. Secara umum, arti buzzer adalah orang yang memanfaatkan akun sosial media miliknya guna menyebarluaskan informasi atau melakukan suatu promosi maupun iklan dari suatu produk atau jasa pada perusahaan atau instansi.
Pengamat politik Kalteng sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR) Ricky Zulfauzan menyebut, peran buzzer dalam memengaruhi suara untuk memilih calon tertentu itu cukup signifikan.
“Buzzer cukup signifikan memengaruhi pemilik suara yang terpapar informasi lebih banyak. Dengan begitu, buzzer mampu mem-framing pemilih tadi untuk diarahkan memilih calon tertentu,” ujar Ricky saat diwawancarai Tabengan, Minggu (22/9).
Apalagi, kata Ricky, di era post truth seperti sekarang, dimana kebenaran bisa diciptakan melalui mobilisasi dari informasi yang bisa dimanipulasi.
“Informasi sangat rentan dimanipulasi. Pencitraan jadi senjata pamungkasnya memengaruhi pemilik suara dalam memilih calon tertentu,” imbuhnya.
Momentum ini, tutur Ricky, yang akhirnya dimanfaatkan oleh oknum calon kepala daerah yang minim gagasan dan kurang visioner untuk memakai buzzer politik tadi dalam upaya menciptakan framing tertentu.
“Kecenderungan pemilih muda yang FOMO atau Fear Of Missing Out adalah rasa takut merasa ‘tertinggal’ karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sehingga pemilih muda yang FOMO tersebut mengikuti tren dan buta fakta dan sekarang menjadikan tantangan kita bersama,” tuturnya.
Menurut Ricky, buzzer adalah fenomena yang pasti terjadi di era sekarang. Jadi perlu ada mencari kebenaran informasi dari informasi yang didapat.
“Bagi kita yang terpapar informasi yang banyak perlu diperhatikan selalu cek dan ricek informasi. Pastikan informasi dari sumber terpercaya dan selalu berpikir kritis atas informasi yang diperoleh. Jangan pernah lelah untuk melakukan konfirmasi kepada yang diberitakan jika memungkinkan dilakukan,” pungkas Ricky. rmp





