PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib melaporkan, bencana banjir melanda enam kabupaten/kota di wilayah Kalimantan Tengah dan menyebabkan dampak signifikan bagi masyarakat.
“Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BPBD Kabupaten/Kota untuk memastikan penanganan banjir berjalan dengan baik. Upaya evakuasi dan bantuan logistik juga telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” ujar Ahmad Toyib kepada Tabengan, Senin (17/3).
Ia menjelaskan, banjir terlama terjadi di Kabupaten Barito Selatan, sejak 7 Januari hingga 16 Maret 2025 atau selama 69 hari. Banjir ini menggenangi Kecamatan Dusun Hilir, khususnya di Desa Mahajandau dan Desa Sungai Jaya, dengan dampak terhadap 825 kepala keluarga atau 2.661 jiwa. Selain itu, sebanyak tujuh fasilitas umum terendam dengan tinggi muka air mencapai 22 cm.
Di Kabupaten Kapuas, banjir berlangsung selama 10 hari, sejak 5 hingga 14 Maret 2025. Kecamatan Mantangai menjadi wilayah terdampak, mencakup 10 desa, di mana 1.664 kepala keluarga atau 5.080 jiwa terimbas. Sebanyak 75 fasilitas umum dan 710 rumah warga juga terendam akibat banjir yang mencapai ketinggian 300 cm.
Kabupaten Katingan juga mengalami banjir selama 11 hari, dari 3 hingga 13 Maret 2025. Wilayah terdampak meliputi dua kecamatan, yakni Katingan Hilir dan Tasik Payawan, dengan total 14 desa yang tergenang air. Meski tidak ada warga yang terdampak langsung, dua fasilitas umum diketahui ikut terendam. Tinggi muka air di wilayah ini mencapai 80 cm.
Kondisi serupa terjadi di Kota Palangka Raya. Toyib menyebutkan bahwa banjir melanda empat kecamatan, mencakup 14 kelurahan, dari 10 hingga 15 Maret 2025.
“Di Palangka Raya, banjir berdampak pada 5.011 kepala keluarga atau 13.851 jiwa, dengan empat orang di antaranya harus mengungsi,” ungkapnya.
Selain itu, 80 fasilitas umum, 2.420 rumah, dan sembilan sarana pendukung turut terdampak. Tinggi muka air di wilayah ini mencapai 205 cm.
Sementara itu, di Kabupaten Pulang Pisau, banjir terjadi sejak 9 hingga 16 Maret 2025, atau selama delapan hari. Toyib menyampaikan bahwa tiga kecamatan terdampak, yakni Kahayan Tengah, Sebangau Kuala, dan Jabiren Raya.
“Banjir ini berdampak pada 459 kepala keluarga atau 1.837 jiwa, dengan 25 rumah yang terendam,” ujarnya. Fasilitas umum yang terdampak sebanyak 20 unit, dengan tinggi muka air mencapai 70 cm.
Kabupaten Gunung Mas mengalami banjir dengan durasi tersingkat, yakni tiga hari, sejak 14 hingga 16 Maret 2025. Toyib mengatakan, lima kecamatan terdampak, dengan tujuh desa yang terendam.
“Sebanyak 28 kepala keluarga terdampak, tetapi tidak ada korban jiwa,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tujuh fasilitas umum ikut terendam, dengan tinggi muka air mencapai 150 cm.
Secara keseluruhan, banjir di Kalimantan Tengah ini berdampak pada 7.987 kepala keluarga atau 23.429 jiwa, dengan 191 fasilitas umum, 3.155 rumah, dan sembilan sarana pendukung terdampak.
Selain bencana banjir, BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah juga menangani beberapa kejadian non-kebencanaan. Salah satunya adalah penanganan pohon tumbang di Desa Malawaken, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, pada Minggu, 16 Maret 2025, pukul 13.36 hingga 14.15 WIB. Tim BPBD setempat segera turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan pembersihan.
Di Kota Palangka Raya, BPBD bersama berbagai instansi terkait juga melakukan pembersihan drainase di Jalan Adonis Samad, Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, pada Minggu, 16 Maret 2025, pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini melibatkan Manager Pusdalops, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya dan Ahli Muda, BPBD Kota Palangka Raya, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Perkimtan, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, serta Satpol PP.
Toyib mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama di daerah yang memiliki curah hujan tinggi.
“Kami meminta masyarakat untuk selalu mengikuti informasi dari BPBD dan segera mengungsi jika situasi memburuk. Tim kami siap siaga 24 jam untuk menangani bencana di seluruh wilayah Kalimantan Tengah,” katanya.
Namun, ia mengungkapkan hingga saat ini masih belum ada rencana dari pemerintah provinsi Kalimantan Tengah untuk memberikan bantuan secara besar-besaran. ldw











