Budayawan Kalteng Guntur Talajan: Penyusunan buku literasi budaya daerah saat ini tidak hanya sekadar merangkum pengetahuan, tetapi juga memperbaiki serta melengkapi kekurangan agar karya tersebut benar-benar layak menjadi rujukan bagi generasi mendatang.
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Upaya memperkuat literasi budaya di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali mengemuka melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Ruang Dialog Pengayaan Literasi Daerah yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalteng bekerja sama dengan Yayasan Betang Lestari.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 25–26 November 2025, di Aula Dispursip Kalteng ini menjadi ruang strategis untuk memperkaya, merevisi, dan menyempurnakan naskah tujuh buku baru bertema budaya Dayak.
Kepala Dispursip Kalteng Adiah Chandra Sari menegaskan, literasi budaya merupakan fondasi penting dalam membangun identitas masyarakat di tengah gempuran globalisasi. Menurutnya, pemahaman atas sejarah, bahasa, moral, tradisi, hingga kearifan lokal menjadi penyangga utama agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya.
“Kekayaan budaya masyarakat Dayak sarat makna dan nilai filosofis. Karena itu harus direkam, disusun, dan disebarluaskan secara sistematis. Melalui FGD ini, kami kembali menegaskan komitmen menghadirkan literasi daerah yang bukan hanya informatif, tetapi juga menjadi referensi utama dalam pelestarian budaya,” ujarnya, Rabu (26/11).
Adiah menambahkan, kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci agar upaya penguatan literasi lokal dapat berjalan efektif. Buku-buku yang disusun nantinya diharapkan mampu mendorong generasi muda Kalimantan Tengah untuk mencintai dan memahami budaya daerahnya melalui bacaan yang berkualitas.
Penulis, Marta D. Matan mengungkapkan, ketujuh buku yang saat ini dibedah merupakan karya yang sebagian besar belum pernah dibukukan sebelumnya.
“Kalau tulisan singkat di koran atau media sosial memang ada, tetapi yang dibukukan secara rinci seperti ini, setahu saya belum pernah. Tujuannya memang untuk mendokumentasikan sastra lisan dan pengetahuan budaya yang mulai hilang,” jelasnya.
Ia menyebutkan, banyak pengetahuan tradisi yang kini sulit ditemukan karena para pelaku budaya sudah banyak yang tiada. Karena itu, proses penghimpunan data menjadi sangat penting dan dikejar sebelum warisan budaya tersebut benar-benar hilang.
Adapun materi yang dibedah selama dua hari terdiri dari hari pertama adalah Kesah Bue 1, Kesah Bue 2, Ritual Manenung dan Manajab Antang, Mengenal Balanai.
Hari kedua, Mengenal Keunikan Patahu dan Pasah Keramat di Kalimantan Tengah, Mengenal Salutup sebagai Tutup Kepala Suku Dayak di Kalimantan Tengah, Mengenal Kuntau, Silat Tradisional Suku Dayak di Kalimantan Tengah.
Marta menyebutkan bahwa tantangan paling berat dalam penyusunan buku bukan hanya mengumpulkan narasi, tetapi juga menemukan bukti fisik.
“Mencari foto asli itu paling susah. Begitu juga menemukan orang yang masih bisa memainkan cabang, tuyak, sanding, batawi gerakan tradisi itu sudah sangat jarang,” ungkapnya.
Saat ini ketujuh buku tersebut masih berada pada tahap penyempurnaan naskah. Proses pencetakan selanjutnya berada di ranah Dispursip.
Tokoh Kaharingan Kuwu Senilawati memberikan apresiasi tinggi atas penyusunan tujuh buku budaya ini. Menurutnya, literasi budaya Dayak masih sangat minim, sehingga dokumentasi tertulis menjadi kebutuhan mendesak.
“Kita kekurangan literasi budaya yang terdokumentasi baik secara fisik maupun digital. Pembedahan buku ini penting untuk memberikan penyempurnaan agar hasilnya lebih komprehensif,” ucapnya.
Ia berharap tujuh buku tersebut dapat menjadi pemicu munculnya lebih banyak penulis lokal yang mengangkat kekayaan budaya Dayak.
“Semoga ini menjadi trigger bagi penulis-penulis lain untuk terus menuliskan khasanah budaya Dayak lebih banyak lagi di masa mendatang,” harapnya.
Sementara itu, Budayawan Kalteng Guntur Talajan menegaskan, penyusunan buku literasi budaya daerah saat ini tidak hanya sekadar merangkum pengetahuan, tetapi juga memperbaiki serta melengkapi kekurangan agar karya tersebut benar-benar layak menjadi rujukan bagi generasi mendatang.
“Kita akan mendorong dan memperbaiki yang kurang, menambah yang kurang sehingga buku ini jadi sempurna dan bisa menjadi bahan ajar,” ujarnya.
Guntur menambahkan, buku yang tengah disusun tersebut dirancang untuk menjadi sarana literasi bagi berbagai kalangan. Ia menjelaskan, proses penyusunan buku ini sangat penting karena banyak aspek budaya yang selama ini belum terdokumentasi dengan baik.
“Buku ini kalau sudah jadi, hal-hal yang sekarang ini tidak tertulis menjadi tertulis dalam buku. Ini yang luar biasa dari tim ini,” ungkapnya.
Guntur juga mengapresiasi komitmen dan dedikasi tim penyusun yang telah bekerja keras dalam beberapa bulan terakhir.
Melalui dialog literasi daerah ini, Dispursip Kalteng menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam memperkaya khazanah literasi budaya. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat upaya dokumentasi budaya Dayak, tetapi juga memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Dengan hadirnya tujuh buku baru yang tengah disempurnakan, Kalteng selangkah lebih maju dalam melestarikan identitas budaya yang kaya, mendalam, dan penuh nilai filosofis. nws





