PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Di balik sosok anggun dan penuh percaya diri yang kini membawa nama Kabupaten Gunung Mas di ajang Jagau Bawi Nyai Kalimantan Tengah, tersimpan cerita tentang dedikasi, kepedulian, dan mimpi besar seorang anak muda bernama Yunisa Nasella Evansa.
Perempuan berusia 20 tahun ini bukan hanya aktif sebagai mahasiswi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, tetapi juga bekerja sebagai content creator jurnalistik di BorneoNews. Bagi Yunisa, perjalanan menuju panggung Jagau Bawi Nyai bukan sekadar tentang kompetisi atau gelar semata, melainkan bentuk pengabdian untuk daerah dan masyarakat Kalimantan Tengah.
“Saya bangga bisa mewakili dan membawa nama Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah,” ujar Yunisa, di Palangka Raya, Jumat (29/5)
Kecintaannya terhadap dunia kreatif dan komunikasi sudah tumbuh sejak lama. Ia aktif membuat konten digital, menulis reflective journaling, hingga menyusun naskah berita dan voice-over. Di sela aktivitasnya, Yunisa juga rutin menjaga kebugaran dengan bersepeda, berlari, dan jalan santai.
Namun, motivasi terbesarnya justru lahir dari pengalaman sederhana saat menjadi relawan pengajar bagi anak-anak di Kabupaten Gunung Mas. Dari sana, ia memahami bahwa kebudayaan bukan hanya tentang tarian atau pakaian adat, tetapi tentang manusia dan masa depan generasi penerus.
“Melalui Jagau Nyai Kalteng, saya tidak hanya ingin menjadi wajah pariwisata, tetapi juga ingin menjadi ruang aman dan suara bagi generasi muda di akar rumput agar mereka bangga dengan identitas daerahnya,” tuturnya.
Menurut Yunisa, keterbatasan daerah bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia percaya anak muda Kalimantan Tengah memiliki potensi besar untuk berkembang tanpa harus melupakan akar budaya mereka.
Perasaan haru dan tanggung jawab besar pun ia rasakan ketika dipercaya membawa nama daerah di ajang tersebut.
“Ini bukan sekadar tentang memenangkan seleksi atau mengenakan mahkota, tetapi tentang kepercayaan besar yang dititipkan oleh masyarakat Kalimantan Tengah di pundak saya untuk menjadi wajah pariwisata dan kebudayaan daerah kita,” katanya.
Bagi Yunisa, gelar Jagau Bawi Nyai harus diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Ia ingin hadir sebagai role model yang mampu memberikan dampak positif, terutama bagi generasi muda.
“Tanggung jawab terbesar adalah menjadi teladan yang berdampak nyata. Jagau Bawi Nyai bukan hanya gelar di atas panggung, melainkan aksi nyata di lapangan,” ungkapnya.
Ke depan, Yunisa berencana memaksimalkan media sosial sebagai sarana kampanye visual pariwisata Kalimantan Tengah melalui konten vlogging, storytelling budaya, dan kolaborasi bersama stakeholder maupun media. Ia juga ingin melanjutkan gerakan relawan mengajar untuk mengenalkan kearifan lokal sejak dini kepada anak-anak di daerah.
Menurutnya, pendekatan kepada generasi muda harus dilakukan dengan cara yang relevan dan dekat dengan keseharian mereka.
“Kalau mau masuk ke generasi muda sekarang, kita tidak bisa memakai cara yang kaku atau mendikte. Budaya harus dibawa masuk ke gaya hidup mereka supaya muncul rasa bangga yang organik dari dalam diri mereka sendiri,” jelas Yunisa.
Ia juga ingin memperkenalkan budaya melalui sentuhan modern, seperti memadukan busana sehari-hari dengan motif khas Kalimantan Tengah seperti Benang Bintik.
Di balik semangat dan keteguhannya, Yunisa mengaku sosok yang paling menginspirasinya adalah almarhumah sang ibu.
“Beliau mengajarkan saya arti ketulusan, kerja keras, dan kekuatan untuk terus melangkah maju. Semua nilai yang saya bawa hari ini adalah warisan terbaik dari beliau,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Menutup perbincangan, Yunisa menyampaikan pesan bagi seluruh generasi muda Kalimantan Tengah agar tetap berani bermimpi tanpa melupakan identitas daerahnya.
“Jangan pernah ragu untuk melangkah, dan jangan pernah lupa dari mana kita berasal,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa modernisasi harus diikuti agar generasi muda mampu bersaing secara global. Namun, akar budaya Kalimantan Tengah tetap harus melekat dalam jati diri.
“Mari menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bangga dan peduli pada kelestarian budaya serta pariwisata Bumi Tambun Bungai,” pungkasnya.(Ldw).











