PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Berdasarkan hasil analisis dan prakiraan cuaca, terpantau adanya daerah perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di wilayah Kalteng yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya Ika Priti menjelaskan, kondisi tersebut diperkuat oleh kelembapan udara yang relatif basah serta labilitas atmosfer lokal yang kuat. Kombinasi faktor ini mendukung proses konvektif pada skala lokal yang dapat memicu terbentuknya awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Daerah konvergensi yang terpantau di Kalimantan Tengah mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, terutama jika didukung oleh kelembapan udara yang tinggi dan kondisi atmosfer yang labil,” jelasnya.
Berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir atau kilat serta angin kencang meliputi Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, serta Kota Palangka Raya.
Selain hujan dengan intensitas tinggi, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi hujan lokal berdurasi singkat yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini berpeluang disertai angin kencang bahkan angin puting beliung, khususnya pada siang hingga sore hari.
“Dampak yang perlu diantisipasi antara lain genangan air, banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat,” tambahnya.
Dalam Prakiraan Cuaca Wilayah Kalteng yang berlaku 09-15 Januari 2026, kondisi atmosfer secara umum menunjukkan tekanan udara di wilayah Indonesia berada pada kisaran 1007–1015 hPa. Sementara itu, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bertiup dari arah Barat Laut hingga Timur, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan angin bertiup dari arah Tenggara hingga Utara.
Dari sisi dinamika atmosfer global, nilai Southern Oscillation Index (SOI) tercatat +6,3, yang tergolong tidak signifikan dan dinilai tidak berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia tengah dan timur. Namun, Indeks ENSO di wilayah NINO 3.4 berada pada angka -0,95, yang masih dalam kategori normal namun berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif di beberapa wilayah Indonesia.
Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) tercatat +0,18, yang masih berada dalam ambang normal dan tidak berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia bagian barat. Adapun Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 6 (Western Pacific) dalam kondisi netral, namun aktif secara spasial di sebagian wilayah Indonesia dan turut berkontribusi dalam proses pembentukan awan hujan.
Untuk wilayah perairan selatan Kalteng, prospek tinggi gelombang laut mingguan diprakirakan berkisar antara 0,5-2,0 meter, dengan kategori rendah hingga sedang, sehingga nelayan dan pengguna jasa transportasi laut tetap diminta untuk berhati-hati.
Secara umum, ia mengatakan bahwa kondisi cuaca di Kalteng selama periode tersebut diprakirakan berawan hingga hujan ringan, dengan potensi hujan sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah.
“Suhu udara berkisar antara 23°C-33°C, kelembapan udara 60-100%, serta angin umumnya bertiup dari arah Selatan hingga Timur Laut dengan kecepatan sekitar 5–20 km/jam,” katanya.
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan memperhatikan peringatan dini yang dikeluarkan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor, maupun yang beraktivitas di luar ruangan dan perairan. dte











