Ekobis

Pedagang Keluhkan Mahalnya Harga Plastik

220
×

Pedagang Keluhkan Mahalnya Harga Plastik

Sebarkan artikel ini
Pedagang Keluhkan Mahalnya Harga Plastik
Ilustrasi gemini AI

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kenaikan harga bahan baku pendukung, khususnya kantong plastik dan sedotan, mulai berdampak serius bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Palangka Raya.

Para pedagang minuman dingin kini harus memutar otak karena biaya operasional yang membengkak tidak sebanding dengan pendapatan harian. Produk berbahan plastik rata-rata mengalami kenaikan hingga 50 persen.  Dari harga Rp7.000 menjadi Rp12.000 per kemasan.

​​Salah satu pedagang es di kawasan Jalan Yos Sudarso mengungkapkan, harga plastik bening dan cup telah mengalami kenaikan bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Para pedagang mengaku berada di posisi sulit karena tidak berani menaikkan harga jual kepada konsumen.

​”Semua naik. Mau menaikkan harga es, kami takut pelanggan kabur. Tapi kalau harga tetap, untung kami habis buat beli plastik saja,” keluh salah satu pedagang.

Sementara itu, beberapa pedagang Es Teh Poci di Jalan RTA Milono dan Jalan Adonis Samad juga mengaku mengalami hal yang sama, yakni terpaksa menaikan harga untuk menekan keuntungan.

“Harganya dinaikan sedikit, teh yang biasanya Rp5 ribu dijual Rp7 ribu dan yang jumbo juga naik sekitar Rp1.000 sampai Rp2 ribu,” ujar salah satu pedagang Teh Poci di Jalan Adonis Samad.

Ia mengaku hal ini berdampak pada keuntungan yang kian menipis karena harga jual yang mengalami kenaikan harga.

​​Menanggapi fenomena ini, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian (PKUKMP) Kota Palangka Raya, Fajar Bhakti, angkat bicara. Menurutnya, kenaikan harga plastik bukan hanya terjadi di tingkat lokal, melainkan sudah menjadi isu di tingkat nasional.

​”Kenaikan harga plastik merupakan fenomena dan isu nasional yang hampir di seluruh daerah dikeluhkan oleh pedagang maupun pelaku usaha UMKM lainnya,” ujar Fajar Bhakti kepada Tabengan, Selasa (14/4/2026).

​Ia menjelaskan bahwa faktor utama kenaikan ini berkaitan erat dengan situasi geopolitik dunia yang mengganggu rantai pasok bahan baku industri plastik.

​”Kenaikan harga plastik dipengaruhi kondisi global di Timur Tengah yang berpengaruh secara langsung terhadap harga bahan baku dan produksi,” tambahnya.

​Sebagai langkah antisipasi untuk menekan biaya pengeluaran, Fajar Bhakti menyarankan agar masyarakat dan pelaku usaha mulai beralih dari penggunaan plastik sekali pakai. Selain lebih hemat, hal ini juga mendukung kelestarian lingkungan.

​”Saran bagi pelaku usaha dan masyarakat konsumen agar meningkatkan penggunaan tas atau keranjang belanja yang dapat digunakan secara berulang untuk menekan pengeluaran harga plastik,” pungkasnya.

​Para pelaku UMKM di Palangka Raya diharapkan dapat terus berinovasi dan melakukan efisiensi agar usaha mereka tetap bertahan di tengah fluktuasi harga bahan baku global. rmp/rca-red