PENDIDIKAN

UPR Kukuhkan Prof Evi Feronika Elbaar sebagai Guru Besar Agribisnis

233
×

UPR Kukuhkan Prof Evi Feronika Elbaar sebagai Guru Besar Agribisnis

Sebarkan artikel ini
UPR Kukuhkan Prof Evi Feronika Elbaar sebagai Guru Besar Agribisnis
PENGUKUHAN-Prof Evi Feronika Elbaar bersama Rektor UPR Prof Salampak dan undangan selepas prosesi pengalungan gordon.  FOTO TABENGAN/FERRY WAHYUDI

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Universitas Palangka Raya (UPR) kembali menambah jajaran guru besar dengan mengukuhkan Prof Dr Ir Evi Feronika Elbaar MSi sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Agribisnis dan Pertanian Berkelanjutan. Pengukuhan berlangsung dalam sidang terbuka senat UPR di Aula Rahan, Rabu (15/4/2026), yang dihadiri pimpinan universitas, sivitas akademika, serta tamu undangan.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Strategi Transformasi Agribisnis Berkelanjutan di Lahan Gambut Kalimantan Tengah untuk Ketahanan Pangan”, Prof Evi menyoroti tantangan besar sistem pangan global yang saat ini berada dalam kondisi “perfect storm”.

Ia menjelaskan, krisis pangan kini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan krisis ekologis dan energi, ditandai gangguan rantai pasok, lonjakan harga energi, serta penurunan kapasitas produksi pertanian.

Menurutnya, Kalimantan Tengah memiliki posisi strategis karena menjadi wilayah yang mempertemukan kepentingan produksi pangan dan keberlanjutan ekologi, khususnya di kawasan lahan gambut.

“Lahan gambut tidak bisa dipandang hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai batas ekologis yang menuntut pendekatan baru dalam sistem agribisnis,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pendekatan agribisnis konvensional yang berbasis ekspansi lahan seringkali tidak sesuai dengan karakteristik gambut, sehingga memicu degradasi lingkungan, risiko kebakaran, dan ketidakstabilan produksi.

Sebagai solusi, Prof Evi menawarkan tiga pendekatan utama. Pertama, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti paludikultur, agroforestry, serta integrasi pertanian dan perikanan di lahan gambut.

Kedua, penguatan rantai pasok yang terhubung dengan pasar hijau dan pasar premium melalui sistem pelacakan produk (traceability), dengan dukungan koperasi, BUMDes, dan kemitraan swasta.

Ketiga, integrasi sumber pendanaan berbasis mitigasi perubahan iklim untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

“Transformasi agribisnis harus beralih dari eksploitasi menuju sistem yang berbasis ekosistem, pasar, dan insentif iklim,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UPR Prof Dr Ir Salampak MS dalam sambutannya mengingatkan bahwa gelar guru besar bukan hanya simbol akademik, tetapi juga amanah besar untuk memberikan kontribusi nyata.

“Semakin berisi padi, semakin merunduk. Guru besar harus menjadi pemimpin perubahan yang mampu menjawab persoalan nyata, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran guru besar dalam membina generasi penerus serta menjaga kesinambungan keunggulan akademik.

“Dengan bertambahnya guru besar ini, diharapkan UPR semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang agribisnis berkelanjutan yang relevan dengan kondisi khas Kalimantan Tengah,” pungkasnya. fwa/red