Ekobis

Eceran Meroket! Pertalite Rp16 Ribu, Pertamax Rp19 Ribu 

63
×

Eceran Meroket! Pertalite Rp16 Ribu, Pertamax Rp19 Ribu 

Sebarkan artikel ini
Eceran Meroket! Pertalite Rp16 Ribu, Pertamax Rp19 Ribu 
FOTO ILUSTRASI

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Masyarakat Kota Palangka Raya mulai mengeluhkan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat pengecer. Berdasarkan pantauan di lapangan, Rabu (6/5/2026), harga BBM jenis Pertalite dan Pertamax di sejumlah warung pinggir jalan mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

Lonjakan harga ini terpantau merata di beberapa titik strategis, di antaranya Jalan Tjilik Riwut, Jalan G Obos, Jalan Kinibalu dan Jalan Bukit Keminting.

Ani (52), salah satu pengecer BBM di kawasan Jalan Kinibalu, mengungkapkan terpaksa mematok harga tinggi karena sulitnya mendapatkan pasokan. Saat ini, ia menjual Pertalite seharga Rp16.000 per botol dan Pertamax seharga Rp19.000 per botol.

Harga tersebut naik drastis jika dibandingkan harga sebelumnya, di mana Pertalite biasanya dijual di kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000, sementara Pertamax berada di angka Rp15.000 per botol.

“Harganya kita naikkan karena antre di SPBU sekarang lama sekali. Jadi, terpaksa kita naikkan (harganya) sebagai ganti waktu dan tenaga,” ujar Ani singkat saat ditemui di lapaknya.

Menanggapi fenomena ini, Sales Area Manager Retail Kalteng, Donny Prasetya, menjelaskan bahwa saat ini memang tengah dilakukan pembatasan penyaluran untuk menjaga kuota dan meminimalisir praktik ilegal.

Donny menegaskan, kebijakan pembatasan ini merupakan hasil koordinasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pertamina.

“Hal ini dilakukan untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, oleh pihak yang tidak bertanggung jawab atau pelangsir nakal,” jelas Donny kepada media.

Kenaikan harga di tingkat kios eceran ini pun memicu reaksi negatif dari warga, terutama bagi mereka yang enggan mengantre berjam-jam di SPBU resmi. Banyak warga merasa terjepit di antara pilihan mengantre panjang atau membayar harga selisih hingga Rp6.000 dari harga resmi SPBU.

“Sangat memberatkan, apalagi kalau sedang buru-buru berangkat kerja. Mau tidak mau beli di eceran, tapi harganya sudah tidak masuk akal,” keluh salah satu pengendara motor di Jalan Kinibalu.

Fitri Yulianti, seorang warga Palangka Raya lainnya, mengatakan, kenaikan harga BBM di tingkat pengecer ini diduga kuat akibat ulah banyaknya pelangsir. Karena itu, ia mendesak aparat terkait untuk bertindak tegas menertibkan para pelangsir tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, antrean di sejumlah SPBU di Palangka Raya masih terlihat mengular, sementara pengawasan terhadap pengecer liar terus menjadi sorotan publik. rmp/rca-red