7 JAM-Tim Dalkarhutla Kalteng harus berjuang selama 7 jam untuk memadamkan api di TWA Galeget Tiawu, Rabu (16/9/2026).FOTO DISHUT KALTENG
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Jalan Sahai Karungut, Desa Tuwung, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Rabu (16/9/2026).
Tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama petugas pemadaman darat mulai menangani kebakaran sekitar pukul 10.41 WIB.
Api ditemukan di area dengan vegetasi berupa semak belukar, pohon geronggang, tumih, kalakai, dan pakis-pakisan. Kondisi vegetasi tersebut membuat api dapat menjalar di antara tutupan lahan.
Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, mengatakan, petugas melakukan pemadaman sekaligus membatasi penjalaran api, agar area yang terbakar tidak bertambah luas.
“Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman, pembatasan penjalaran api, serta pendinginan,” kata Agustan, Kamis (17/9/2026) di Palangka Raya.
Dalam proses pemadaman, kebutuhan air dipasok dari sumur bor dengan kedalaman sekitar 20 meter. Petugas juga mengerahkan satu unit mobil slip on Ayax, mesin pompa Honda WL, selang hisap, 5 roll selang tembak, nozzle, dan perangkat komunikasi.
Pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga pukul 17.42 WIB. Dari penanganan yang dilakukan, api berhasil dipadamkan pada area dengan luas sekitar 1,07 hektare.
“Pemadaman dilakukan hingga sore hari. Petugas memastikan area yang terbakar ditangani dan dilakukan pendinginan,” ujar Agustan.
Total, lanjutnya, tim harus berjuang selama 7 jam, untuk memadamkan api, sekaligus memastikan api tidak ada lagi, dan kemudian dilakukan pendinginan, untuk lebih memastikan api tidak akan muncul lagi.
Lokasi kebakaran berada dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Galeget Tiawu.
Setelah api padam, petugas melakukan pendinginan dan pengecekan pada area yang sebelumnya terbakar, untuk memastikan tidak terdapat bara atau titik api yang kembali menyala.
Agustan menegaskan, beratnya tugas yang dijalani para tim di lapangan, diharapkan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Salah satunya, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar pada kondisi sekarang ini.
Tidak hanya api yang dihadapi petugas, ungkapnya, tapi juga kondisi geografis, serta ketersediaan air menjadi sangat penting. Beban berat ini, diharapkan dapat dipahami bersama, dan kembali diimbau untuk tidak membuka lahan dengan membakar.ded-red











