-
Spirit Kalteng

BMKG: Hujan di Kalteng Diperkirakan Akhir Oktober hingga Awal November 2026, Kemarau Capai Puncak, Udara PM2.5 Palangka Raya Tembus 1.976 µg/m³, Sangat Berbahaya

330
×

BMKG: Hujan di Kalteng Diperkirakan Akhir Oktober hingga Awal November 2026, Kemarau Capai Puncak, Udara PM2.5 Palangka Raya Tembus 1.976 µg/m³, Sangat Berbahaya

Sebarkan artikel ini
Foto : Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Chandra memantau titik hotspot kualitas udara hingga memperkirakan potensi hujan di sejumlah wilayah Kalteng pada Kamis (24/9/2026). Foto Tabengan/Dirmantio
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Musim kemarau yang melanda wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) saat ini telah memasuki fase puncak. Kondisi tersebut terjadi pada Agustus hingga September 2026, dengan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara yang dinilai lebih parah dibandingkan periode kemarau pada 2015.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra, menyampaikan, berdasarkan kondisi meteorologis, puncak musim kemarau di Kalteng terjadi pada Agustus-September.

Sementara itu, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada akhir Oktober hingga awal November 2026.

“Musim kemarau di wilayah Kalimantan Tengah saat ini memang merupakan puncaknya pada Agustus-September. Kemudian akhir atau awal musim hujannya diperkirakan pada Oktober akhir hingga November awal,” ujarnya saat ditemu Tabengan, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, kondisi kemarau tahun ini juga terlihat cukup ekstrem jika dibandingkan dengan kondisi pada 2015. Hal tersebut salah satunya tercermin dari jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau selama periode kemarau.

Chandra mengatakan, berdasarkan data yang ada, jumlah hotspot pada 2026 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2015. Tingginya jumlah titik panas tersebut turut berpengaruh terhadap kejadian karhutla dan kondisi asap di sejumlah wilayah Kalteng.

“Untuk musim kemarau tahun ini, 2026, memang kalau kita melihat dari data hotspot, lebih tinggi. Kalau dibandingkan dengan data hotspot tahun 2015, jumlah hotspot pada tahun ini memang lebih tinggi,” katanya.

Tidak hanya jumlah hotspot yang meningkat, dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada musim kemarau tahun ini juga dinilai lebih berat. Kondisi tersebut terlihat dari kerusakan akibat karhutla serta pekatnya asap yang berdampak langsung terhadap kualitas udara.

“Untuk dampak kerusakannya, seperti kebakaran hutan dan lahan, dari data yang ada memang lebih parah dibandingkan 2015. Jadi, dari data hotspot sendiri lebih tinggi dibandingkan 2015 dan kondisi asapnya juga lebih pekat, sehingga turut memengaruhi kualitas udara,” jelasnya.

Selain itu, akibat banyaknya titik hotspot dan karhutla sehingga buruknya kualitas udara paling nyata terjadi di Kota Palangka Raya. Chandra menyebut kondisi terparah sejauh ini tercatat pada Kamis (24/9/2026) sore.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Palangka Raya pada pukul 15.00 hingga 16.00 WIB mencapai sekitar 1.976 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut bahkan mendekati 2.000 µg/m³ dan telah berada pada kategori berbahaya. Tingginya konsentrasi PM2.5 menunjukkan kondisi udara yang sangat buruk akibat pekatnya asap yang menyelimuti wilayah tersebut.

Sebagai gambaran, apabila konsentrasi PM2.5 berada pada angka sekitar 250 µg/m³, kondisi tersebut sudah masuk dalam kategori yang perlu diwaspadai. Sementara angka yang tercatat pada Kamis sore mencapai sekitar enam hingga tujuh kali lipat dari angka tersebut.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan besarnya dampak asap karhutla terhadap kualitas udara di Palangka Raya. Konsentrasi partikulat halus yang sangat tinggi berpotensi mengganggu kualitas udara dan meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan.

Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung panjang hingga kualitas udara semaking memburuk, kabar baik datang dari potensi peningkatan curah hujan. BMKG memprakirakan peluang hujan di wilayah Kalteng akan semakin meningkat dalam satu pekan ke depan.

Chandra menyebut hujan yang berpotensi terjadi umumnya berada pada kategori ringan hingga sedang. Namun, untuk sejumlah wilayah di bagian utara Kalteng, intensitas hujan diprakirakan dapat mencapai kategori sedang hingga lebat.

Peningkatan potensi hujan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kekeringan serta menekan kondisi asap akibat karhutla di sejumlah wilayah.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai perubahan cuaca karena hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi disertai petir atau kilat dan angin kencang.

Untuk periode 25-27 September 2026, BMKG telah memprakirakan sejumlah wilayah Kalteng berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Pada Kamis (25/9/2026), wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat meliputi Kotawaringin Timur, Katingan bagian utara, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, dan Barito Selatan.

Kemudian pada Jumat (26/9/2026), potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Seruyan bagian utara, Katingan bagian utara, serta Murung Raya.

Sementara pada Sabtu (27/9/2026), potensi hujan serupa mencakup Gunung Mas bagian utara, Murung Raya, Barito Utara, dan Barito Selatan.

Dengan meningkatnya potensi hujan dalam beberapa hari ke depan, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa wilayah Kalteng mulai memasuki masa peralihan menuju musim penghujan.

Namun, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi karhutla dan perubahan cuaca hingga musim hujan benar-benar berlangsung secara merata.

“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kalteng akan mulai terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2026,” pungkasnya. dte

 

-
-
-