PALANGKA RAYA/tabengan.co.id-Banyak sekali potensi yang dapat dilihat dari daerah Kalimantan Tengah. Mulai dari wisata, kuliner, adat istiadat, hingga keseniannya. Salah satu yang menjadi perhatian baik dalam negeri bahkan sampai ke luar negeri adalah bidang kesenian, khususnya seni menganyam atau biasa orang Suku Dayak di Kalteng menyebutnya “menjawet”.
Di berbagai pelosok daerah Kalteng, sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga masyarakat melakukan kegiatan menganyam. Sedari dini anak-anak di daerah sudah diajarkan untuk dapat melakukan kegiatan menganyam. Dengan memanfaatkan hasil alam yang ada yakni rotan, digunakan menjadi bahan baku. Dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi benda yang bisa dipergunakan sehari-hari, seperti tas, topi, tikar dan lainnya.
Hal tersebut pula yang dilakukan oleh warga di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalteng. Bukan hanya sekadar untuk dipergunakan sehari-hari, benda hasil dari kesenian menganyam tersebut dimanfaatkan sebagai mata percaharian masyarakat sekitar.
Benda dari hasil seni menganyam berbahan rotan menjadi daya tarik tersendiri, khususnya untuk kalangan masyarakat luar daerah Kalteng. Berbagai macam motif seperti ukiran khas Suku Dayak dituangkan ke dalam tas, topi, tikar dan benda lainnya agar menambah daya tarik kepada calon konsumen.
“Dari kita kecil sudah diajarkan oleh orang tua cara menganyam rotan. Jadi sampai sekarang kita sudah terbiasa dan sudah menjadi pekerjaan serta usaha kita hingga sekarang. Lumayan bisa memenuhi kebutuhan kami di rumah sehari-hari,” ungkap Neci, salah satu pelaku usaha menganyam di Desa Jabiren kepada Tabengan.
Harga tas, topi dan lainnya dijual dengan kisaran ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Tergantung dari besar kecilnya dan tingkat kerumitan motif yang dituangkan. Pemasarannya sendiri selain di daerah Kalteng, juga sampai ke Pulau Jawa dan sekitarnya, bahkan pernah sampai ke luar negeri di Swiss dan Jerman.
Namun sayang, ungkap Neci, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, pesanan barang dari kerajinan menganyam berkurang drastis. Pandemi Covid-19 yang melanda hampir membuat mati usaha dari kesenian menganyam rotan warga masyarakat di Desa Jabiren.
“Sudah lama tidak pernah lagi ada event-event pameran dan acara lainnya, jadi pesanan untuk kami membuat tas dan lainnya hampir tidak ada. Jadi kami cuma berharap sama toko-toko yang menjual barang-barang hasil dari anyaman rotan kami” ucap Neci.
Di akhir perbincangan, Neci juga mengungkapkan kendala masyarakat pada bahan baku rotan yang sekarang mulai susah untuk dicari. Kalaupun mereka harus beli dari daerah lainnya, harga sudah terlampau tinggi.
Masyarakat juga berharap bantuan dari pemerintah setempat untuk dapat membuat usaha mereka agar berbadan hukum dan memiliki legalitas yang resmi, karena hingga kini para pelaku usaha anyaman rotan di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau belum memiliki merek dagang untuk usaha mereka. nus
Jawet Rotan Desa Jabiren Coba Bertahan di Krisis Pandemi











