PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Profesi yang satu ini, sering dianggap sepele. Padahal jika ditelisik lebih dalam profesi ini memegang peran penting bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa.
Guru, sebuah profesi yang selalu menjadi ujung tombak, tetapi perannya sering dinomor sekiankan entah oleh sebuah sistem atau pandangan segelintir orang. Tepatlah jika dikatakan “seorang guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa.”

Dalam momen bersejarah hari pahlawan kali ini, Tabengan memberikan sajian profil salah seorang guru, putra daerah yang mendedikasikan dirinya di dunia Pendidikan. Sosok tersebut adalah Lewy Yunatan S.Pd.
Pria berusia 42 tahun ini, memulai karirnya sejak 2008 hingga saat ini dengan menjadi guru di sekolah terpencil /pinggiran melalui jalur sungai.
Dikatakan ayah 3 orang anak tersebut, pertama kali ditugaskan menjadi guru di SMP Negeri Satu Atap 7 Palangka Raya di Kelurahan Danau Tundai Kecamatan Sabangau Kota Palangka Rayahingga 15 Juni 2022 pindah tugas ke sekolah baru.
Saat ini, Lewy bertugas dan dipercayakan sebagai Kepala Sekolah di SMPN Satu Atap 3 Palangka Raya Kelurahan Kameloh Baru yang juga berada di tepian sungai Kahayan perbatasan dengan Pulang Pisau yang hanya dapat diakses melalui jalur sungai.

“Sebelumnya bertugas di SMP Negeri Satu Atap 7 Kelurahan Danau Tundai. Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya. Yang juga berada di wilayah terpencil (ujung paling timur) kota Palangka Raya,” bebernya kepada Tabengan, Rabu (9/11).
Dijelaskan pula oleh guru yang juga bertalenta musisi ini, banyak sudah suka dan duka selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Namun oleh karena komitmen dan panggilan serta dedikasinya tersebut, Lewy pantang menyerah dengan dukungan dan semangat dari sang Istri, Wahyu Ariatie yang juga berprofesi guru di SDS Shining Kids.
Disebut Lewy, kendala yang dihadapi terutama faktor geografis adalah akses yang hanya bisa dilalui sungai. Karena tidak ada jalan ke tempat tugas selain jalur sungai, maka tantangan yang dihadapi adalah perjalanan jalur air yang harus menggunakan perahu kelotok, dimana pada musim hujan datang atau banjir harus rela berbasah-basahan.
Dijelaskannya, bila mesin kelotok bermasalah harus berhenti untuk memperbaiki yang akhirnya menghambat perjalanan.
Apabila musim kemarau jarak tempuh akan semakin lama dikarenakan jalur sungai yang surut membuat perahu kelotok tidak dapat dijalankan kencang karena banyaknya kayu di dasar sungai. Bila kondisi banjir, arus sungai yang cukup deras juga membuat resiko perjalanan menjadi tinggi.
“Untuk kejadian kelotok karam selama 14 tahun mengabdi sudah tidak terhitung lagi, setiap tahun biasanya ada saja, namun tidak pernah sampai ada korban jiwa, karena Tuhan tetap menolong dan menyertai guru-guru. Semoga Tuhan selalu menyertai seluruh pengabdian guru terpencil,” jelasnya.
Sekalipun resiko besar yang sering ditemuinya, Lewy tetap tidak kehilangan semangat. Saat ditanya apa yang menjadi motivasinya, sehingga semangatnya terus berkobar. Lewi menjelaskan dirinya ingin menjadi bagian untuk mencerdaskan anak-anak bangsa terutama putra-putra daerah Kalimantan Tengah terutama suku Dayak di wilayah pinggiran kota dimana mereka harus mendapat pendidikan yang baik demi masa depan mereka.
“Saya merasa sebagai putra daerah harus memberikan kontribusi untuk masa depan. Saya prihatin bila anak-anak kita dipinggiran tidak terlayani pendidikannya dengan baik. Jadi semua tantangan yang ada kami anggap hal yang biasa kami hadapi walau dengan perjuangan melakukannya,” imbuhnya
Lewy berharap berharap agar fasilitas pendidikan di sekolah dapat diperlengkapi dengan baik mengingat pada umumnya sarpras di wilayah terpencil banyak yang butuh penambahan atau rehabilitasi.
Pesannya bagi peserta didik dan rekan guru dimana pun berada, agar tetap semangat untuk belajar meskipun ke sekolah harus menggunakan kelotok atau sering kehujanan di tengah sungai.
Dikatakan Lewy, sebagai guru/abdi negara adalah pilihan pribadi, tidak ada yang memaksa. Dan dimanapun ditempatkan itulah bagian dari pengabdian sebagai abdi negara.
“Harapan ke depan fasilitas pendidikan daerah terpencil semakin baik, guru-guru semakin semangat walau dengan tantangan yang banyak, seluruh peserta didik dapat terlayani pendidikannya dengan baik agar dapat berkompetesi dengan kemajuan zaman,” daniel











