-
SPIRIT POLITIK

Pilpres Diprediksi 1 Putaran

64
×

Pilpres Diprediksi 1 Putaran

Sebarkan artikel ini
FOTO KATADATA/LAMBOK HUTABARAT
-

Hasil Quick Count Pilpres 2024

  1. Indikator
    Suara masuk 99.20%

    Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 25,36%
    Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 58.03%
    Ganjar Pranowo-Mahfud Md 16.61%

    2. LSI Denny JA
    Suara masuk 99.90%

    Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 25.21%
    Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 58.06%
    Ganjar Pranowo-Mahfud Md 16.31%

  2. Charta Politika
    Suara masuk 98.4%

    Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 25.70%
    Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 57.79%
    Ganjar Pranowo-Mahfud Md 16.50%

    4. Poltracking
    Suara masuk 98.07%

    Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 24.86%
    Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 58.87%
    Ganjar Pranowo-Mahfud Md 16.27%

    5. PRC
    Suara masuk 98.92%

    Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 24.04%
    Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 59.34%
    Ganjar Pranowo-Mahfud Md 16.63%

 

 

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, khususnya di Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat sorotan berbagai unsur terkait prediksi dan ragam hal lainnya. Salah satunya, kemenangan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang saat ini tampak unggul adalah pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dari dua pasangan lainnya.

Menurut salah seorang pengamat politik Kalteng Rano Rahman, untuk Pilpres kali ini memang diperkirakan akan jatuh 1 putaran saja. Hal ini dapat terlihat dari berbagai perhitungan di lapangan. Pasangan Prabowo-Gibran sementara ini memiliki angka yang lebih tinggi dibandingkan pasangan Ganjar-Mahfud dan Anies-Cak Imin.

“Kita bisa lihat bagaimana jumlah suara sementara saat ini yang cukup jauh perbandingannya, dari kedua pasangan lainnya. Apalagi bisa dikatakan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga menjadi salah satu yang aktif dalam memenangkan pasangan Prabowo-Gibran di lapangan,” ujarnya ketika dihubungi Tabengan via WhatsApp seluler, Kamis (15/2) sore.

Intinya, ujar Rano, di lingkup Pilpres sudah jelas keunggulannya dan sementara ini diprediksikan terjadi 1 putaran. Sementara itu ketika disinggung soal pelaksanaan Pemilu dan sistem yang ada saat ini, dirinya menilai memang secara keseluruhan sudah sangat lancar dan kondusif situasinya serta tidak terdapat kendala.

Hanya saja, ujar dia, yang kerap pihaknya temui di lapangan seperti soal proses demokrasi yang dinilai memerlukan pembenahan. Contohnya, masalah indikasi politik uang (money politic) yang bisa dikatakan diduga masif terjadi di Kalteng.

“Ini soal indikasi politik uang yang masih terjadi di lapangan. Artinya proses demokratisi ini yang harus diperbaiki, agar ke depannya jangan sampai masif terjadi,” ucapnya.

Bisa dikatakan masalah ini perlu jadi perhatian bersama, khususnya jajaran elite politik dan pemerintah daerah dalam penanggulangannya. Karena hal semacam ini jelas mendorong berbagai hal, ke arah hal-hal yang negatif dan bukan sesuatu yang dikatakan positif.

Rano mencontohkan, bisa saja pencegahan dilakukan dengan mengubah sistem Pemilu ke depan, seperti mencoblos parpolnya saja atau sistem lainnya yang lebih mudah, tanpa harus memunculkan potensi terjadinya politik uang terkait.

Lalu hal lain yang juga perlu dibenahi adalah sistem perhitungan yang sampai saat ini masih menggunakan hitung manual. Yang jadi pertanyaan pihaknya, di era canggih dan teknologi saat ini, perhitungan masih dilakukan manual dan dilaksanakan hingga malam hari. Jelas saja tenaga, akal dan pikiran manusia akan bekerja ekstra, yang mana hal itu juga memiliki batasan untuk diforsir lebih.

“Di era modern saat ini, komputerisasi atau hal yang berkaitan dengan kecanggihan sudah berjalan mengatur kehidupan manusia. Misalnya saja, kalau bisa ke depan perhitungan bisa dilakukan sebagian dengan mengandalkan Artificial Intelligence (AI) dan separuhnya bisa dilakukan manual, demi meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kelelahan, berkurangnya kesehatan manusia dan sebagainya,” harapnya.

Namun yang terjadi saat ini di lapangan justru penghitungan masih menggunakan 100 persen sistem manual semata. Bahkan di TPS saja, ujarnya, terindikasi untuk rekap belum digunakan sebagai acuan yang akurat atau 100 persen benar.

Maka ke depan harus ada terobosan atau inovasi baru dengan detail 50 persen teknologi dan sisanya bisa saja dari manual untuk proses votingnya. Lalu kendala lainnya yang terjadi di lapangan adalah persoalan surat suara masyarakat, yang lokasi pencoblosannya terkadang bisa berbeda dari alamat sekitar domisili.

“Kadang ada yang acak tempat memilihnya, misalnya yang tinggal di Yos Sudarso harus memilih ke Betang Griya Permai sana. Bagaimana kalau ini terjadi di wilayah pedesaan di daerah pehuluan, jelas repot. Masyarakat di sana ada yang tidak memiliki angkutan atau tranportasi menuju ke wilayah pemilihan,” keluhnya.

Terpisah, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kalteng Heru Hidayat ketika dimintai komentar terkait hasil dan jalannya Pemilu di Kalteng, mengaku masih fokus pada rekapitulasi penghitungan suara.

“Kita sedang fokus untuk menyiapkan data riil dari TPS, untuk bahan tahapan rekapitulasi di PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan),” kata Heru singkat, Kamis (16/2).

Sementara berdasarkan data resmi yang diupdate pada laman https://pemilu2024.kpu.go.id/pilpres/hitung-suara/11, yang dikutip pada pukul 19.08 WIB, khususnya di Kalteng pasangan Capres/Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul dengan 68,8 persen atau mengantongi 152.449 suara, dari 2.504 TPS dari total 7.830 TPS se-Kalteng atau 31,98 persen suara yang masuk data KPU. drn/sgh/hil

 

-
-
-