PALANGKA RAYA/tabengan.co.id – Menjelang pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Tengah, dinamika internal organisasi mulai menunjukkan geliat yang signifikan. Bursa calon Ketua PWNU Kalteng periode 2026–2030 kian menghangat, seiring munculnya sejumlah nama tokoh NU yang dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak kepemimpinan yang kuat.
Dari berbagai kalangan Nahdliyin di Kalimantan Tengah, sedikitnya sepuluh nama mulai disebut-sebut masuk dalam radar kandidat Ketua PWNU Kalteng. Mereka adalah HM Wahyudie, F Dirun, Prof. H. Akhmad Dkahoir, H. Suhardi, H. Rahmat Nasution Hamka, Prof. Abdul Helim, H. Nuryakin, H. Syahrun, H. Syamsuri Yusuf, serta H. Awaludin Noor.
Mayoritas nama tersebut bukan figur baru di lingkungan Nahdlatul Ulama. Mereka dikenal aktif dalam struktur organisasi, baik di tingkat wilayah maupun cabang, serta memiliki pengalaman panjang dalam mengelola jam’iyah dan lembaga-lembaga NU di Kalimantan Tengah.
Munculnya banyak calon Ketua PWNU Kalteng dinilai sebagai cerminan kuatnya proses kaderisasi di tubuh NU daerah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa NU Kalteng tidak kekurangan stok kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi ke depan.
Salah seorang kader muda NU Kalteng, Yedi Syamsudin, menilai dinamika ini sebagai hal yang sangat positif. Menurutnya, banyaknya figur yang muncul menandakan NU Kalteng berada dalam kondisi organisasi yang sehat dan matang secara struktural maupun kultural.
“Ini menunjukkan NU Kalteng memiliki banyak figur potensial yang siap mengemban amanah dan melanjutkan khidmat kepemimpinan. Tinggal bagaimana Konferwil nanti menjadi ajang musyawarah yang dewasa dan beradab,” ujarnya, Rabu (14/1/2025).
Ia menegaskan bahwa Konferwil PWNU Kalteng seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang kontestasi memilih ketua, tetapi juga momentum konsolidasi jam’iyah dan penguatan peran NU di daerah. Ketua terpilih nantinya diharapkan mampu menjaga soliditas warga NU lintas generasi dan memperkuat kontribusi NU dalam kehidupan keagamaan, sosial, serta kebangsaan.
“Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua PWNU Kalteng, tugas utamanya adalah merawat persatuan warga NU dan memastikan NU tetap hadir sebagai penyangga moderasi beragama dan keutuhan bangsa,” tegasnya.
Yedi juga mengingatkan bahwa perbedaan pilihan dalam Konferwil merupakan bagian wajar dari demokrasi organisasi. Namun, seluruh proses harus tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang menjadi ruh perjuangan NU sejak awal berdiri.
“Yang paling penting adalah adab, persatuan, dan khidmat untuk NU. Jangan sampai perbedaan pandangan justru melemahkan jam’iyah,” katanya.
Konferwil PWNU Kalimantan Tengah sendiri dijadwalkan akan digelar pada Februari 2026. Selain agenda pemilihan Ketua PWNU Kalteng periode 2026–2030, Konferwil juga akan membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya serta merumuskan arah kebijakan strategis NU Kalteng dalam menghadapi tantangan keumatan dan kebangsaan ke depan.
Dengan dinamika yang mulai menguat sejak dini, Konferwil PWNU Kalteng diproyeksikan berlangsung kompetitif namun tetap dalam koridor musyawarah, sesuai tradisi Nahdlatul Ulama yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kebijaksanaan.





